Saturday, 22 September 2018

Nama Baik

Sabtu, 6 Agustus 2016 — 6:00 WIB
dulkarung-top

Oleh S Saiful Rahim

SEPERTI biasa, setelah masuk ke warung kopi Mas Wargo sambil mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih, Dul Karung mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul. Namun tidak seperti biasanya, dia tidak langsung melemparkan bokongnya ke bagian kosong bangku panjang yang ada karena seseorang telah menggeser duduknya memberi tempat untuk si Dul. Dia hanya berdiri. Singkong goreng yang biasanya langsung dicaplok pun kini masih di tangan. Terjepit antara telunjuk dan ibu jari tangan kanan si Dul. Semua ketidakbiasaan itu terjadi karena orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang berkata bahwa kebiasaan Dul Karung dapat membuat nama baik warung Mas Wargo tercemar.

Dul Karung tidak bertanya mengapa kebiasaannya itu dapat mencemarkan nama baik warung Mas Wargo. Karena dia kalah cepat dengan orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Mengapa Bung anggap kebiasaan Dul Karung mencaplok singkong goreng yang kebul-kebul dapat mencemarkan nama baik warung kopi ini?” tanya orang itu.

“Oh, bukan kebiasaan mencaplok singkong goreng yang masih kebul-kebul. Tapi kebiasaan pergi meninggalkan warung ini sebelum membayar satu sen pun apa yang telah dimakan dan diminumnya. Coba seluruh hadirin saksikan! Nanti setelah puas makan dan minum di warung ini, Dul Karung pasti akan pergi begitu saja,” jawab orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang direspons oleh sebagian besar hadirin dengan anggukan kepala. Tentu saja kecuali Dul Karung.

“Ooo itu. Kalau itu sih kita semua mafhum. Kami semua paham. Artinya si Dul mengutang dulu semua yang dimakan dan diminumnya hari itu. Nanti kalau ada duitnya pun akan dilunasi. Dul Karung tahu benar watak orang Jawa seperti Mas Wargo. Amat baik. Bahkan menurut Butet Kartarajasa, orang Jawa kalau malam-malam kelaparan dan di rumahnya tidak ada beras, ketuk saja pintu tetangga dan ceritakan kesulitannya, pasti diberi beras. Karena itu Dul Karung bisa enak saja pergi meninggalkan warung Mas Wargo tanpa membayar lebih dulu,” jelas orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Tapi mereka yang tidak tahu hubungan antara Dul Karung dan Mas Wargo demikian baik, tetap akan curiga. Kalau mereka tidak mencurigai dagangan Mas Wargo tidak enak sehingga tidak patut dibayar, mungkin mereka menduga Dul Karung itu semacam preman tukang palak. Pokoknya tingkah demikian itu berpotensi menimbulkan mencemarkan nama baik,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang itu lagi. Keukeuh pada pendiriannya.

Kesal merasa dirinya jadi sumber perbedaan pendapat Dul Karung pun meninggalkan warung Mas Wargo sambil berkata, ”Mas saya utang lagi, ya. Saya mau buru-buru menjenguk teman saya yang istrinya baru melahirkan. Saya mau menyuruh teman itu menamakan anaknya “Nama Baik” agar tak ada orang yang berani mengganggu, menyinggung, apalagi mencemarkan anak teman saya itu.” (syahsr@gmail.com )