Thursday, 20 July 2017

Bicara Boleh, Diam Juga Oke!

Selasa, 9 Agustus 2016 — 6:00 WIB
nyali

“ BAPAK katanya mau nyalon gubernur, kok malah mlempem ?”

“ Bapak kan tahu saya nggak punya partai pendukung?”

“ Lha, kan ada jalur independen?” kata seseorang di seberang sana melalui HP, “ Kasihan nih, hanya ada satu calon independen, Bapak bisa menemani biar seru, gitu?” ujarnya lagi.

Bang Jalil diam, dari pada panjang lebar, nggak jelas, dia menutup HP.
Tapi, ternyata nggak sampai di situ, sang istri malah menyambung,” Ayo lah Pak maju, nanti Ibu dukung!”

“ Ibu mampu kumpulin sejuta foto kopi KTP?” ujar Bang Jalil.

” Baru sejuta, dua juta juga Ibu mampu. Tinggal foto copy aja kok repot?” ujar sang istri.

Bang Jalil diam. Dia tidak mau memperpanjang dialognya dengan sang istri!
“ Bicara dong Pak, mau nyalonin apa nggak? Bapak harus berani dong, harus punya nyali. Yang lain juga sama, sama sama manusia, makan nasi!” ujar sang istri.

Bang Jalil masih diam. Tapi hatinya bicara;” Ibu tuh nggak tahu, kalau urusan calon, bukan soal nyali besar atau kecil. Yang penting punya uang. Uang banyak, pasti nyalinya besar!”

“ Ayo, dong Pak, kok malah diam, ya malah ngorok?!” sang istri setengah berteriak.

Bang Jalil masih diam. Memang untuk menghadapi omongan yang nggak karuan, lebih baik diam. Diam itu emas, kata pribahasa. Lalu hati Bang Jalil pun berceloteh; “Alangkah indahnya diam, bila bicara dapat menyakiti orang lain, alangkah terhormatnya diam, bila bicara hanya untuk merendahkan orang lain, alangkah bagusnya diam, bila bicara hanya berakibat terhinanya orang lain?”

“ Iya, Pak, tapi alangkah dahsyatnya bicara, kalau diam juga hanya mengakibatkan celakanya orang lain! Dan betapa pentingnya bicara kalau diam menyebabkan orang jadi bodoh!” ujar sang istri, seperti berbalas pantun.

“ Politikus juga harus banyak ngomong Pak. Masa kalau dimintai komentar cuma bilang ‘No Comment’, doang?” ujar sang istri. – massoes