Sunday, 25 June 2017

Kisah Nyata ini Tidak Wajar

Sabtu, 13 Agustus 2016 — 6:00 WIB
sental-til-til

SEORANG lelaki, narapidana menangis ketika dia mendapat kebebasan dari penjara. “ Saya nggak mau keluar, Pak. Saya mau tetap di sini, tambah saja hukuman beberapa tahun lagi. Lebih baik saya di dalam saja,” katanya terbata-bata.

Tentu saja ini merepotkan petugas penjara. Mana bisa penjara menambah hukuman? Kan semua yang punya kewenangan memvonis, mengurangi atau menambah hukuman kan hakim?
Bukan itu saja, penjara atau lembaga pemasyarakatan di Indonesia ini semua sudah over kapasitas. Luber. Karena ruang penjara nggak nambah, tapi pelaku kejahatan yang dihukum makin banyak.

Jadi pada akhirnya, kepala penjara pun tidak bisa mengabulkan permohonan si lelaki yang sebelumnya dihukum karena mencuri.

Kisah nyata ini memang tidak wajar. Karena yang wajar itu ya, kebanyakan terdakwa akan mati-matian membela diri dan memohon pada hakim agar divonis ringan. Malah kalau perlu bebas?

Contoh kasus, tuh pengacara yang katanya kondang itu dinaikkan hukumannya oleh Mahkamah Agung menjadi 10 tahun penjara. Kan menjerit ya? Ini nggak adil, katanya!

Jadi, ya bukan dia saja, sebagian besar terdakwa termasuk koruptor, berusaha minta vonis ringan. Ya, pokoknya sebisa mungkin deh, diupayakan jangan lama-lama di dalam. Pokoknya mengeluarkan duit banyak juga nggak apa-apa. Nyogok, misalnya? Kan dulu dihukum juga karena sogok menyogok?

Nah, kembali pada si lelaki ‘penjahat kelas teri’ tadi yang kepingin berlama-lama di penjara, karena dia merasa hidup di luar sulit. Jangankan tempat tinggal, mau makan saja bingung. Apa harus mencuri lagi?

Beda buat para koruptor, hartanya masih melimpah ruah. Sayang kan nggak dinikmati?
Bayangkan kalau nanti keluar penjara sudah tua, peot, gigi rontok semua? Hemm, nggak nikmat la yauw! -massoes