Monday, 15 July 2019

Antara Ahok, Mega dan PDIP Seperti Drama

Minggu, 21 Agustus 2016 — 12:02 WIB
ist

ist

SAAT  momen bersejarah bagi bangsa Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Kemerdekaan RI, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama secara mengejutkan bermanuver.

Langkah politiknya kali ini adalah langkah besar dalam persaingan menuju kursi DKI 1 yang akan diperebutkan melalui pilkada Jakarta 2017 mendatang. Langkah ini bermakna ganda karena ini akan mendatangkan dukungan besar baginya dan meminimalisir kekuatan calon lawannya.

Rabu, 17 Agustus 2017, calon gubernur petahana bertandang ke kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dengan didampingi Wakil gubernur Jakarta Djarot Saeful Hidayat, yang juga kader PDIP, Ahok bertemu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Usai bertemu dengan Megawati, Ahok mengaklaim dirinya sudah mendapat restu dan dukungan dari Megawati untuk berdampingan kembali bersama Djarot. Meski dia mengakui dukunganan baru bersifat pribadi belum dukungan secars partai.

” Kemarin kita ketemu Bu Mega. Ibu secara pribadi mau dukung tapi secara partai kan ada prosedural dan mekanisme,” kata Ahok di Balai Kota Jakarta.

Meski meminang Djarot, mantan bupati Belitung Timur ini menyatakan tidak mendaftar ke partai berlambang banteng moncong putih itu. Padahal sebelumnya, Djarot mengatakan kedatangan Ahok ke kantor DPP PDIP untuk mendaftar. Bahkan Ahok mengaku dirinya hanya menginginkan Djarot, bukan dukungan dari PDIP, meskipun dia tidak menutup kemungkinan dukungan dari PDIP.

“Kita ga daftar, gak pake daftar. Bukan minta dukungan. Saya minta Djarot. Makanya terserah. Saya gak minta PDIP loh. Saya mau Djarot, mau gak ikut saya jadi wakil,” kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat (18/8/2016).

Sontak pernyataannya ini membuat beberapa kader PDIP naik pitam. Apalagi sebelumnya beberapa kader PDIP sudah melakukan penolakan terhadap Ahok. Di Youtube tersebar video yel-yel penolakan dengan judul ‘Ahok Pasti Tumbang.’ dalam video nampak Sekretaris DPD PDIP DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD PDI-P DKI Jakarta Bambang DH, dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP DKI Jakarta Gembong Warsono. DPW PDIP Jakarta juga sudah tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan bersama PAN, PKS, PKB, Gerindra, PPP dan Demokrat.

Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto mengungkapkan kekesalannya pada Ahok. Dia berharap gubernur Jakarta itu tidak banyak berbicara. Kami minta Pak Ahok disiplin berbicara. Beliau itu pemimpin,” kata Hasto di Kantor DPP PDI-P.

Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Pareira juga buka suara, ia menuding calon gubernur petahana itu tengah berupaya mengadu domba kader PDIP.

“Pola yg dipakai Ahok mengadu domba. Memecah belah antara kader dengan kader. Bahkan Ahok dengan licik mencoba mengadu domba antara Djarot dengan partainya PDIP dengan berlindung dibalik ceritanya tentang dukungan dari Ketum PDIP,” ujar Andreas.

Ahok bukannya tidak dengar suara sumbang mengenai penolakannya dari internal PDIP. Ia menanggapi dengan santai. Dia menganggap itu hanya sebuah dinamika partai, dan lumrah terjadi.

Ya, mungkin benar, Ahok tak perlu khawatir terhadap gelombang penolakan dari internal PDIP, jika klaimnya tentang kedekatan dan dukungan dari Megawati nyata. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa suara Megawati adalah suara partai. Maka dengan sendirinya suara sumbang akan hilang. Dan jika ini terjadi, Ahok kembali berhasil melakukan manuvernya.

Dan jika benar pada akhirnya PDIP kembali mengusung pasangan Ahok-Djarot, maka pernyataan pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio bahwa PDIP tengah memainkan skenario besar dari PDIP tepat. Partai berlambang moncong putih ini tengah memainkan drama, drama di Pilkada Jakarta.

Ahok, Megawati dan PDIP adalah tokoh sentral pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Langkah mereka akan berdampak besar dalam peta persaingan. Panas dingin hubungan ketiganya bak bumbu yang memperkaya rasa. Seperti drama, kisah tiga tokoh ini akan selalu dinanti oleh masyarakat dan media. Kita tunggu saja akhir drama ini, setidaknya pada 23 September, saat batas akhir pencalonan gubernur dan wakil gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
(ikbal/sir)

  • Eddy Setiabudi Wijaya

    kalo gue pikir yg kisruh itu PDIP nya.terlalu ngotot cari CCAGUB LAEN dgn nafsu BIAR BISA BAGI BAGI KUE next time