Tuesday, 24 January 2017

Haji Asean

Sabtu, 27 Agustus 2016 — 6:10 WIB
dullllllka

Oleh S Saiful Rahim

SEPERTI biasa, sambil mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih, Dul Karung melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo. Dan seperti biasa juga, tangannya mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Kukira kau menunaikan ibadah haji Dul,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk sambil bergeser memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

“Ibadah haji? Dul Karung tidak akan pernah bisa memenuhi syarat untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima itu,” tanggap orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya bangku yang ada di warung tersebut.

“Lho, kenapa?” tanya orang yang tadi bergeser memberi tempat kepada si Dul.

“Kan rukun Islam yang kelima itu bunyinya ‘ibadah haji bila mampu.’ Kalau sekadar menghafal kalimat-kalimat yang ada di dalam Rukun Islam tersebut, sejak masih menjadi murid ustadz Shoheh di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah al Khairiyah di Karet Kubur dulu, Dul Karung termasuk yang jempolan. Dan soal manasik haji, sudah ada di ubun-ubunnya ketika dia mengaji pada ustadz H Marzuki di surau Kong Subing.”

“Lalu apanya yang kurang?” potong orang yang memberi tempat duduk pada Dul Karung.

“Ya duitnya dong. Jangankan duit untuk membayar ONH, alias Ongkos Naik Haji, untuk bayar utangnya pada Mas Wargo saja, Dul Karung gak pernah mampu. Nah, syarat “bila mampu” itu yang menyebabkan Dul Karung sampai kiamat pun belum tentu mampu beribadah haji,” jelas orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang membuat orang-orang yang mendengarnya tertawa atau sekadar tersenyum.

“Tapi ada untungnya juga bagi Dul Karung. Karena dia tak punya duit untuk beribadah haji, maka dia tidak tertipu oleh buaya-buaya perjalanan haji,” kata orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Kalau kupikir-pikir, penipu orang-orang yang ingin ibadah haji itu bukan sekadar buaya, tapi jahanamnya buaya. Orang ingin ibadah kok ditipu? Dan tiap tahun pula kejahatan kelas jahanam itu terjadi,” komentar orang yang duduk di depan Mas Wargo dengan nada yang amat geram.

“Benar, Bung! Kita tidak bisa menduga-duga, apalagi tahu dengan persis, kapan pemerintah mampu mencegah aksi buaya-buaya jahanam tersebut,” tanggap entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Mungkin kalau Pemerintah Saudi mampu menampung semua jemaah haji yang tiap tahun berdatangan dari tiap penjuru dunia, masalah tipu menipu tidak akan ada, ya?” kata orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung yang tampaknya kurang tahu masalah haji.

“Itu mustahil. Karena setiap tahun jumlah jemaah haji akan bertambah terus. Sejalan dengan bertambahnya jumlah umat Islam, dan meningkatnya kemampuan ekonomis mereka. Padahal areal untuk menampung jemaah tersebut tidak dapat ditambah seenaknya. Misalnya saat pelaksaan wukuf, tempatnya ya hanya di padang yang bernama Arafah saja. Bila ditambahkan di tempat lain melanggar ketentuan agama,” kata Dul Karung yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba turut angkat bicara.

“Barangkali itu sebabnya diberlakukan sistem kuota, ya?” kata orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Betul. Menurutku, kalau saja Pemertintah Indonesia bisa memberangkatkan semua calon hajinya, tipu menipu itu, dan juga sistem tunggu yang kini berlaku bagi calon haji, akan tidak ada lagi,” kata Dul Karung yakin dan mencoba meyakinkan.

“Mustahil itu Dul,” sanggah Mas Wargo yang rupanya ingin ikut bicara juga.

“Menurut saya ada cara yang harus dicoba.”

“Misalnya?” potong orang yang duduk selang dua di kanan Dul Karung, sebelum si Dul selesai bicara.

“Kita, maksudku Pemerintah RI, mengajak negara-negara Asean meminta Kerajaan Saudi menyatukan jatah atau kuota haji untuk Asean. Lalu, dengan “Semangat Asean” kita gotong royong di antara sesama negara Asean mengisi jatah tersebut. Nanti bila ada jatah suatu negara Asean yang kosong akan diisi oleh negara yang lain. Katakanlah Singapura, Thailand, atau negara anggota Asean lainnya yang jatahnya tidak terpenuhi, bisa diisi oleh warga dari negara Asean lainnya. Dari Indonesia, misalnya.

Menurutku itu baik sekali. Persatuan Asean akan kian terpadu dan kesulitan Indonesia sebagai anggota Asean dalam urusan jemaah haji akan teratasi dengan baik,” kata Dul Karung dengan bangga sambil pergi meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )

Terbaru

Atap Gedung Grha Tanoto, Universitas Bhayangkara, di Jl Perjuangan roboh terkena angin. (M2/saban)
Selasa, 24/01/2017 — 18:14 WIB
Hujan Lebat di Bekasi Atap Kampus Terbang
wn2
Selasa, 24/01/2017 — 18:09 WIB
Ditangkap di Rumah Mewah di Kapuk
Sepasang Kekasih Diduga Pengendali Tujuh WN Tiongkok
ahok
Selasa, 24/01/2017 — 17:47 WIB
Juru Kamera Tak Simak Omongan Ahok