Wednesday, 26 September 2018

Keseriusan Menggempur Narkoba

Selasa, 30 Agustus 2016 — 5:37 WIB

ANCAMAN apa yang paling menakutkan bagi bangsa ini ? Jawabannya adalah narkoba. Barang satu ini membunuh pelan-pelan, bahkan bisa menghancurkan sebuah bangsa. Bukan cuma Indonesia yang menjadikan narkoba sebagai musuh bangsa. Negara lain pun sama. Filipina bahkan sangat tegas mengancam akan menurunkan ‘petrus’ (penembak misterius) guna menghabisi sel-sel jaringan narkoba.

Kasus narkoba dalam dua hari ini kembali jadi sorotan setelah dua selebritas, pedangdut Imam S Arifin serta Gatot Brajamusti (Ketua PARFI) diringkus polisi. Yang memprihatinkan, narkoba Imam S Arifin disebut-sebut dipasok oleh oknum polisi. Ini adalah sebuah realita bahwa narkotika memang sudah merasuk ke semua lini. Oknum perwira TNI, Polri, anggota DPR, akademisi dan berbagai profesi lainnya tak sedikit yang terjerambab ke kubangan narkoba.

Keganasan narkoba jangan dianggap sepele. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, setiap hari rata-rata 30-40 orang meninggal akibat narkotika. Belum lagi yang mengalami depresi mental dan gangguan psikotik dan pasti membuat masa depan hancur. Pendek kata, narkoba jadi pembunuh nomor dua di negeri ini setelah kecelakaan lalu lintas.

Indonesia sampai detik ini belum bisa lepas dari cengkeraman mafia internasional narkotika. Beberapa tahun lalu pemerintah mencanangkan tahun 2015 negeri ini bersih dari narkoba. Tapi target itu tidak tercapai, sebaliknya gempuran barang mematikan itu kian ganas. Tahun lalu saja BNN menyita 3.000 ton narkoba, rata-rata diselundupkan dari China. Angka ini mengerikan karena bisa meracuni sekitar 15 juta orang dengan asumsi 1 gram dipakai 5 orang.

Catatan BNN, jumlah pemadat meningkat signifikan dan saat ini mencapai 5,9 juta orang. Sebagai gambaran, pada 2014 jumlah pengguna baru tercatat 1,5 juta orang, sedangkan tahun 2015 naik 2 persen menjadi 1,7 juta pengguna. Tak ada lingkungan RT/RW di negara ini yang bebas dari narkotika.

Perang melawan penyalahgunaan narkoba harus dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat. Tinggal kemauan dan keseriusan. Kita tahu, barang terlarang selama ini masuk melalui jalur laut baik lewat pelabuhan resmi maupun pelabuhan tikus. Pemerintah semestinya memperketat pengawasan di pintu masuk jalur laut. Bila ada oknum yang ‘main mata’ dengan bandar, pemerintah harus tegas. Contohlah Filipina.

Peran masyarakat juga sangat diperlukan dan dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, lingkungan tempat tinggal, sekolah, organisasi kemasyarakatan dan lainnya. Sekecil apa pun peran kita, seperti memberi informasi ke aparat terkait, sangat berharga. Jangan biarkan negeri ini hancur digempur mafia narkotika.**