Sunday, 28 May 2017

MINTA AMPUN ……

Rabu, 31 Agustus 2016 — 5:48 WIB

“DULU kalau bulan Agustus masih musim panas. Masuk September, kita sudah siap-siap sediakan ember karena bakal turun hujan, bulan-bulan ber,” kataku meletakkan koran di meja.

“Ya itu dulu. Sekarang lain lagi. Katanya ekstrim. Tiba-tiba saja bisa hujan. Dan itu terjadi malam Minggu kemarin. Daerah Kemang, Pasar Minggu, Pejaten bisa banjir,” kata Soleh.

“Di Kemang yang paling parah. Banyak mobil terendam banjir. Daerah itu jarang kebanjiran, sekarang kena. Malah di daerah kita di Kelapa Gading, alhamdulillah aman-aman saja,” kata Lukman.

“Katanya hujan lebat sehingga Kali Krukut di situ tak mampu menampung. Kalinya sudah menyempit karena bangunan di pinggirnya, akibatnya jebol,” sambung Soleh.

“Kita bersyukur kali ini kita nggak kebanjiran. Tahun 2007 paling parah, minta ampun. Satu minggu aku nggak bisa ke mana-mana,” kataku.

“Nah, mulai kemarin sudah diberlakukan nomor genap ganjil di bekas three in one,” kataku.

“Polisi sudah siapkan surat tilang. Yang melanggar, tak ampun langsung ditilang,” kata Soleh.

“Yang enak kawan ini,” kataku melirik Lukman.

“Kenapa,” desak Soleh.

“Nomor mobilnya ganjil. Coba, hari ini ganjil, besok juga nomor ganjil, kan enak,” kataku.

“Betul juga ya. Nanti juga sama, 31 Oktober Senin, 1 November besoknya,” kata Lukman.

“Ya, sudahlah nasibnya. Tapi sekarang kan lagi ramai soal pengampunan pajak,” kataku.

“Kudengar juga begitu. Kawanku tanya, dia punya tanah di Cariu. Sudah beberapa tahun ini PBBnya nggak ditagih-tagih,” kata Lukman.

“Kalau soal PBB tanya saja ke Dinas Pajak Kabupaten Bogor. Cuma masalahnya, dia sudah laporkan nggak asetnya itu. Kalau belum lapor, ya kena,” kataku.

“Dia bingung juga. Mana tanah itu belum sertifikat, masih akte jual beli. Dulu dia bayar PBB, tapi sudah beberapa tahun tak ada yang mengurus, dan tak ada tagihan,” kata Soleh.

“Kenapa?” desak Lukman.

“Soalnya kan masih akte, selama ini tak ada yang ngurus. Jangan-jangan sudah disertifikati orang. Kalau dia lapor, tanahnya belum jelas, kena denda lagi,” kata Soleh.

“Di Whats App ada surat cerita seorang pensiunan mau minta pengampunan pajak. Petugas pajak tanya kekayaan yang belum dilapor. Ia jujur saja, bilang ada rumah, ada tanah dan mobil. Dihitung-hitung, jumlahnya Rp. 4 miliar. Kalau mau ikut pengampunan pajak sekarang, bayar pajak terutangnya Rp. 94 juta. Pensiunan itu nangis. Bagaimana harus membayarnya,” kata Lukman

“Untung menangis, kalau berteriak minta ampun..” kataku. (lubis1209@gmail.com)