Wednesday, 17 October 2018

Mekkah Kian Dipadati Jemaah, Pengawasan Katering Diperketat

Kamis, 1 September 2016 — 11:02 WIB
Pengawasan Katering

Pengawasan Katering

MEKKAH – Mendekati puncak haji, wukuf di Arafah, kota Makkah semakin padat. Lebih dar1 128 ribu jemaah haji Indonesia sudah berada di Makkah. Selama di kota kelahiran Nabi, mereka akan mendapatkan layanan katering 2 x 12 hari.

Untuk memastikan kulaitas produksi katering tidak menurun seiring meningkatnya jumlah jemaah yang harus dilayani, tim katering memperketat pengawasannya. “Pengwasan kita perketat jangan sampai makanan dikonsumsi jemaah dalam kondisi tidak layak,” tegas Direktur Pelayanaan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis saat meninjau sejumlah dapur penyedia katering jemaah haji di Makkah, Arab Saudi.

“Kalau ditemukan makanan basi yang sudah sampai di pemondokan, kita setop. Jemaah tidak boleh mengkonsumsi makanan itu. kita ganti dengan yang layak,” tegasnya lagi.

Sri Ilham mengatakan bahwa katering yang tidak layak makan sempat terjadi di salah satu rumah di sektor 4. Tim katering bergerak cepat dengan mengirim surat teguran dan meminta pihak penyedia untuk mengganti makanan yang tidak layak pada saat itu juga.
Jika perusahaan itu melakukan pelanggaran kedua kalinya, lanjut Sri, maka selain mengganti makanan, juga harus membayar 50 persen dari yang tidak layak makanan. Misalnya, jika ada 200 porsi yang tidak layak makan, dia harus membayar 100 porsi.

(Baca: 128 Ribu Jemaah Indonesia Berada di Kota Makkah)

“Pelanggaran ketiga kalinya, kita akan putus kontrak kerja dengan mereka. Itu sudah sesuai dengan tahapan sanksi yang tercantum di dalam kontrak,” terangnya.

Untuk memastikan kualitas makanan dalam teknis, Sri Ilham telah menempatkan pengawas katering di setiap pemondokan jemaah. Selain pengawas katering, ada juga petugas sansur yang akan mengecek kualitas makanan sebelum dibagikan. “Kalau ada yang tidak layak, tim kita turun dan meminta perusahaan untuk mengganti makanan yang tidak layak,” ujarnya.

Lantas, jika sampai ada perusahan yang diputus kontrak tengah jalan, bagaimana mekanisme pengalihannya? Menurut Sri Ilham, kapasitas layanan ada perusahaan yang diputus kontraknya akan didistribusikan ke perusahaan lain yang terbukti baik kinerjanya. Meski demikian, tidak serta merta dialihkan ke satu perusahaan, tapi dibagi rata sesuai urutan peringkatnya.

“Sekarang kita memberikan penilaian kinerja terhadap semua perusahaan katering. mana yang terbaik kita berikan ranking. Kita juga sampaikan kepada mereka untuk saling berkompetisi melakukan perbaikan-perbaikan, khususnya pada saat gelombang dua,” kata Sri Ilham.

Monitoring Sri Ilham Lubis terhadap sejumlah dapur merupakan bagian dari mekanisme pengawasan. Dari hasil tinjauan itu, Sri melihat dapur sudah menyiapkan makanan untuk jemaah sesuai standar yang ditentukan. “Mulai dari proses memasak, sampai dengan packingannya sudah kita saksikan. Bahan baku makanan yang dibuat sudah sesuai standar,” katanya puas.

“Untuk cita rasa, tadi sudah kita coba juga. Alhamdulillah cita rasa indonesia, karena kita syaratkan bumbu masak Indonesia dan juru masak Indonesia,” tambahnya.

Ditanya soal gramasi, Sri Ilham menjelaskan bahwa gramasi setiap menu makanan suda ditetapkan. Nasi misalnya, harus 200 gram. Lauk karena dua, 190 gram; satu 100 gram dan satunya lagi 90 gram.

Untuk memastikan gramasi makanan yang akan dikonsumsi jemaah sesuai, Sri memastikan setiap hari ada tim pengawas dan tim sansur yang melakukan pengecekan. “Kalau kurang, kita akan berikan teguran pada perusahaan kateringnya dan dia harus menambah sesuai dengan gramasi yang telah kita tentukan,” tandasnya.
(kemenag/sir)