Tuesday, 25 July 2017

Kebanyakan Tunjangan

Sabtu, 3 September 2016 — 6:17 WIB

Oleh S Saiful Rahim

UNTUK kesekian kalinya Dul Karung masuk ke warung kopi Mas Wargo dengan langkah yang lunglai. Bahkan, lebih daripada yang sudah-sudah, kali ini ucapan assalamu alaykum-nya pun ikut nyaris tidak terdengar.

“Kenapa kau tampak loyo sekali, Dul? Kau ikut kecewa berat mendengar Menteri Agama hadir dan pidato di suatu acara yang menyatu dengan pemberian penghargaan terhadap kaum LGBT?” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk warung yang sekaligus bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Wah, Bung jangan mengait-kaitkan kelesuan Dul Karung dengan kehadiran Menteri Agama di acara yang menyebabkan beliau diberi peringatan oleh Majelis Ulama Indonesia itu dong. Kalau kata istilah Jakarta, “Jelek-jelek kan Menteri Agama kita itu anak almarhum mantan Menteri Agama juga. Apalagi ayah beliau ketika masih hidup dulu adalah wartawan jempolan yang tulisan-tulisannya sangat enak dibaca,” komentar orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Betul itu. Apalagi beliau tidak tahu di acara tersebut ada kegiatan pemberian penghargaan kepada kaum pencinta seks sejenis. Beliau tahunya kan diminta memberi orasi kebudayaan,” sambung orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya bangku yang ada di sana.

“Apa beliau itu budayawan kayak KH Mustafa Bisri?” tanya entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Diam semua!” kata Dul Karung tiba-tiba sambil menggebrak meja, sehingga sebagian teh manis yang belum diminumnya muncrat ke meja.

“Kalau kalian sangka atau lihat, aku hari ini tampak lesu dan kurang bersemangat ketika masuk ke warung ini, sedikit pun tidak ada sangkut pautnya dengan berita Menteri Agama disemprit atau mungkin disemprot oleh MUI, atau sang menteri itu budayawan atau bukan. Aku lesu karena kasihan dengan nasib para anggota DPRD. Orang-orang yang duduk di lembaga terhormat itu, yang keberadaannya di lembaga tersebut sedikit banyak karena pilihan kita, tampaknya dalam kesulitan. Kita semua harus bertanggung jawab, karena kita sedikit banyak telah menyebabkan mereka susah.”

“Susah? Apanya yang susah! Kita inilah yang menjadi susah gara-gara memilih mereka,” teriak orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang sebelum Dul Karung menyelesaikan ucapannya.

“Wah, kau ini tidak pernah baca koran rupanya. Dan kalau nonton televisi yang kau tonton acara hahah heheh yang tidak ada mutunya sama sekali itu. Karena itu kau tidak tahu rencana kenaikan gaji mereka yang konon sudah ditandatangani presiden diminta ditunda. Yang meminta penundaan itu bukan sembarang orang pula. Beliau adalah Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia, Mardani Maming,“ kata Dul Karung dengan nada tinggi dan menyala-nyala bagaikan hutan terbakar.

“Dul tahukah kau, para anggota DPRD sekarang ini sudah mempunyai 13 tunjangan selain gaji. Tidak seperti kamu, utang pada Mas Wargo saja tak bisa kau bereskan. Sebentar lagi Idul Adha, apa Mas Wargo akan kau jadikan kurban,” sambar orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Nah itu! Ada 13 tunjangan. Kalian tahu, di depan rumahku ada rumah yang ditempati seorang janda tua yang tak punya anak. Di belakang rumahnya, janda itu menanam banyak jenis sayuran dan cabe bawang untuk keperluannya masak-memasak. Ketika kena banjir kemarin, pohon-pohon sayuran dan cabe bawang itu rebah. Terpaksa sang janda memberikan sebuah penunjang untuk membuat pepohonan tersebut mampu berdiri lagi. Nah, sekarang bayangkan. Pohon yang kondisinya rebah, tidak bisa berdiri, loyo, letoi, tidak berdaya, itu saja memerlukan sebuah tunjangan. Kalau sampai ada yang mendapat 13 tunjangan, seperti anggota DPRD itu, kan artinya lebih merana dan lebih loyo daripada pohon cabe yang dilanda banjir,” kata Dul Karung seraya pergi meninggalkan warung Mas Wargo. Orang-orang yang mendengar omongan Dul Karung cuma melongo. ( syahsr@gmail.com )