Friday, 16 November 2018

Kemacetan di Jakarta Kian Kronis

Selasa, 6 September 2016 — 1:21 WIB
Kemacetan di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. (yp)

Kemacetan di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. (yp)

JAKARTA (Pos Kota) – Kemacetan di Jakarta kian kronis. Berbagai strategi yang dilakukan Pemprov DKI dalam mengurai masalah kota ini belum menunjukkan hasil memuaskan.

Malah sesuai dengan data Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtran) DKI, dari total 837 titik, baru 141 titik kemacetan yang tertangani.

Azas Tigor Nainggolan, pengamat perkotaan, pesimis kemacetan akan teratasi. Sebab, penanganan yang dilakukan Pemprov DKI masih parsial alias tidak general. Seharusnya Transportasi massal Jakarta harus terintetgrasi dengan wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).

“Kemacetan tak akan pernah selesai selama hanya dilakukan Pemprov DKI tanpa ada keterlibatan pemdan lain dan pemerintah pusat. Sebab, bukan hanya orang Jakarta yang membuat macet, tapi warga daerah mitra juga bereperan dalam masalah ini,” ujar Azas, Senin (5/9).

PAJAK PROGRESIF

Ia mencontohkan kebijakan pembatasan kendaraan melalui pajak progresif. Kebijakan ini hanya menyasar kepada warga ibukota. Sedangkan daerah mitra belum memberlakukan hal ini. Padahal dari data Ditlantas Polda Metro Jaya mencatat sebanyak 17,523 juta unit kendaraan tersebar di wilayah hukumnya, yakni Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi. Dengan rincian sepeda motor sebanyak 13.084.372 unit, mobil pribadi sebanyak 3,2 juta unit, mobil barang 673 ribu unit, bus 362 ribu unit dan kendaraan khusus 137 ribu unit.

Dari jumlah tersebut, setiap hari rata-rata 4,2 juta kendaraan dari tiga daerah mitra menyerbu Jakarta. “Kebijakan parsial jelas tidak efektif, karena nyatanya pertumbuhan kendaraan masih terjadi yang mencapai 12 persen setiap tahunnya,” papar Azas.

Dengan panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 Km dan luas jalan 40,1 Km atau 0,26 persen dari luas wilayah Jakarta jelas itu tak akan cukup untuk menampung kendaraan. Ini diperparah dengan minimnya pertumbuhan jalan yang hanya 0,01 persen, sehingga tidak heran bila kemacetan kian mengkhawatirkan di Jakarta.

TIGA PROGRAM

Kepala Dishubtransi DKI, Andri Yansyah tidak menampik bila penanganan kemacetan masih jauh dari harapan. Dari total 837 titik, baru 141 titik kemacetan yang tertangani. Keterbatasan personel menjadi salah satu alasan.

Menurut dia, saat ini, petugas Dishubtrans di lapangan berjumlah 1.131 orang yang dibagi dua shift. Untuk menjaga putaran arah atau u-turn yang berjumlah 421 titik, Dishubtrans membutuhkan sedikitnya 1.684 personel.

Dishubtrans terus berupaya menambah petugas dengan merekrut pekerja kontrak waktu tertentu, pihaknya juga berupaya mempercepat terlaksananya Pola Transportasi Makro (PTM). Andri menjabarkan PTM terbagi tiga program, yakni perbaikan dan penambahan transportasi massal yang saling terintegrasi, penambahan ruas jalan dan pembatasan kendaraan.

Perbaikan dan penambahan transportasi massal yang saling terintegrasi sedang dilakukan, baik revitalisasi angkutan umum Bus Rapid Transit (BRT) ataupun non BRT, pembangunan Mass Rapid Transit (MRT), dan Light Rail Transit (LRT).

Kemudian, untuk penambahan ruas jalan, pihaknya dibantu Dinas Bina Marga DKI sedang membangun jalan layang Transjakarta Ciledug-Tendean, pembangunan simpang susun Semanggi dan sebagainya.

Lalu untuk pembatasan, pihaknya saat ini sedang melelang Elektronik Road Pricing (ERP), parkir mesin dan penerapan sistem ganjil genap. Andri optimistis bila semuanya akan selesai berbarengan pada 2018 dan membuat kemacetan berkurang dan kecepatan rata-rata bisa mencapai batas ideal rata-rata 35 kilometer perjam. (guruh)

  • Leo Astuti

    Perluas sistim ganjil genap dan gratiskan busway serta semua angkot dan metro mini

  • dani

    Buat sistem ganji genap berlaku untuk seluruh wilayah dki termasuk sepeda motor, batasi kendaraan luar dki masuk wilayah dki dengan menerapkan sistem bayar / stiker untuk kendaraan luar dki, kendaraan luar dki tidak membayar pajak di dki akan tetapi hampir tiap hari menggunakan fasilitas jalan dki…macet makin parah sangat tidak produktif..