Wednesday, 19 September 2018

Dive Operator dan Media Thailand Jatuh Cinta di Labuan Bajo

Minggu, 11 September 2016 — 12:35 WIB

LABUAN BAJO – Nggak ada bosannya. Peserta Diving Fam Trip to Komodo Island Thailand Operator And Media yang diboyong Kemenpar 5-10 September 2016 ini benar-benar jatuh cinta. Mereka cukup lama muter-muter destinasi wisata bahari di kawasan Komodo, Labuan Bajo.

Hampir satu Minggu berbasah-basah di satu dari 10 top destinasi yang oleh Menpar Arief Yahya itu sering disebut 10 Bali Baru itu. Tapi tidak ada bosannya, selalu ingin nyebur bersama segerombolan Nemo, Dori dan Manta di sana.

Semula, bayangan orang, berwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu hanya untuk melihat habitat asli binatang Komodo di Pulau Komodo, Padar dan Rinca. Konon, Namun begitu menyelam di bawah lautnya, mereka menemukan keistimewaan lain yang selama ini tidak pernah tereskspore, marine tourism-nya. Khususnya wisata bawah laut di Taman Nasional Komodo (TNK).

Indahan bawah laut yang menawan bisa dinikmati dengan melakukan diving dan snorkeling untuk melihat secara langsung betapa indah dan menganggumkannya kekayaan alam Negara Indonesia ini.

Apalagi di TNK sendiri terdapat lebih dari 1.000 jenis ikan, 385 terumbu karang, 105 jenis kepiting, 70 jenissponge, 10 jenis lumba-lumba, 6 hiu, penyu hijau dan hawksbill, duyung, hiu dan pari manta. Sehingga jutaan pasang mata yang melihatnya akan seperti terhipnotis.

Wisatawan juga bisa menikmati pesona alam yang cantik dan menakjubkan, indahnya pasir putih berhias batu karang serta deburan ombak di pantai. Air laut begitu jernih dan biru serta sinar matahari yang menghangatkan pantai. Dan tampaknya pergeseran minat wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo memang terjadi dari keinginan melihat Komodo ke wisata air.

Hal itu juga dibenarkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Theodorus Suardi. Menurutnya, jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) yang berkunjung ke Labuan Bajo dalam dua tahun terakhir meningkat dratis mencapai 100 ribu lebih. Wisman itu paling banyak dari Australia, Amerika Serikat dan Jerman.

“Alasan mereka datang ke Labuan Bajo karena ingin melihat habitat asli binatang Komodo. Karena memang adanya hanya di Lanuan Bajo,” ungkapnya kepada wartawan yang mengikuti Diving Fam Trip to Komodo Island Yhailand Operator And Media.

Kunjungan wisman tersebut berulang dan tidak hanya sekali saja. Tapi kunjungan berikutnya itu ternyata tidak untuk melihat Komodo lagi. “Kunjungan berikutnya mereka memilih wisata air yaitu snorkeling dan diving. Mereka ingin menikmati Indahnya taman bawah laut di kawasan Taman Nasional Komodo,”paparnya.

Bahkan Theodorus menggambarkan perbandingan kunjungan wisman yang ingin melihar Komodo dan wisata air adalah 30 persen berbanding 70%. Sehingga sekarang ini promosinya lebih ke wisata air. “Dengan perkembangan yang ada sekarang ini, kita optimis target kunjungan wisata 1 juta pada tahun 2019 akan terpenuhi,” ujarnya (*)

  • dwi

    Selamat pagi para pembaca PosKota News

    Mengenai pariwisata di Labuan Bajo, Saya ajungkan jempol utk omset yang tak terkira untuk pelabuhan sekecil Labuan Bajo (yang boleh dikatakan spektakuler dgn omset pendapatan 800 Milyar lebih per/tahunnya di DisPar Labuan Bajo itu sendiri). Itu yang tercatat oleh dispar labuan bajo.

    Berkenaan dengan itu, alangkah sangat disayangkan apabila pemda setempat blm maximal mengatur/mengelola pariwisata itu sendiri. Sebagai contoh : banyaknya pengusaha-pengusaha asing yang berdiam/ membuka /menyewa lahan/tanah di sekitaran Labuan Bajo dengan harga yang sangat fantastis (melebihi harga tanah di jakarta)
    Bagaimana tidak menggiurkan para pemodal kuat di Labuan Bajo…? Lalu, bagaimana sikap pembelaan pemerintah setempat untuk segala kebutuhan warga Labuan Bajo itu sendiri…? Apakah warganya sudah benar2 merasakan hasil dari pemekaran di Labuan bajo itu sendiri?
    Bagaimana dengan kebutuhan air bersih di Warga Labuan bajo? Apakah sudah dilakukan dengan baik kebutuhan air bersih di sana?? Dalam satu minggu, hanya 2 kali air PAM mengalir…? Padahal air bersih adalah kebutuhan warga yang sangat fatal dan sangat diperlukan warga.
    Sementara terdapat beberapa daerah yang bisa menghasilkan air bersih, padahal dapat dimanfaatkan pemda setempat untuk fungsi air bersih ini untuk warganya.

    Untuk Listrik
    Sangat sering pemadaman listrik di labuan bajo ini (bahkan hampir setiap hari warga mengeluhkan hal ini). Bagaimana pemda setempat memperbaiki ini? Sementara semua gembar-gembor soal meningkatkan pariwisata, sementara warganya sendiri kurang diperhatikan dalam hal ini (Air PAM & Listrik)

    Semoga ada orang-orang yang mau berjuang dalam meningkatkan hak warga di Labuan Bajo itu sendiri. Bukan hanya pemungutan “Pajak-pakaj” yang “wajib” mereka bayar (atau bahkan pungli-pungli tidak jelas yang masih beredar di sana)

    Ini yang dirasakan dan dikeluhkan warga di Labuan Bajo