Wednesday, 21 November 2018

Kerjanya di Pabrik Gula Tapi Tak Manis Hidupnya

Kamis, 15 September 2016 — 6:45 WIB
laga-dki

KASIHAN betul nasib Chairudin, 49, dari Pasuruan (Jatim) ini. Meski jadi menejer PG (Pabrik Gula) hidupnya tidak selalu manis. Bahkan beberapa hari lalu dia ditemukan meninggal di atas perut di kompleks lokalisasi Plembon. Kabarnya sebelum bertempur dia minum obat kuat 4 tablet sekaligus.

Tempat kerja memang tak selalu menggambarkan kesejahteraan. Kerja di pabrik mobil, apakah pegawainya musti dapat jatah mobil satu-satu? Mending kerja di persuratkabaran, setiap pagi dapat jatah koran 1 eksemplar. Begitu pula yang bekerja di pabrik gula, bukan berarti hidupnya selalu manis seperti air tebu. Tapi belum pasti juga, bekerja di pabrik gula bakal terkena penyakit kencing manis.

Chairudin warga Candi, Kabupaten Sidoarjo ini misalnya. Dia bekerja menjadi menejer PG di Pasuruan. Meskipun setiap hari kerjanya berkecimpung dengan gula, tapi hidupnya tidak selalu manis. Bahkan dia merasa malang dalam kehidupan rumahtangganya, sehingga tega mencari WIL untuk mengisi kehidupannya yang hampa.

Diam-diam dia memang memiliki WIL cantik, namanya Munasih, 42. Biar janda beranak tiga, tapi masih STNK alias: setengah tuwa ning kepenak. Penampilan keseharian Jeng Mun –begitu disebut– ini memang sangat menggamit rasa merangsang pandang. Ketika belum mendapatkannya, setiap melihat penampilan si janda, ukuran celana Chairudin langsung berubah total, dari M ke XL.

Sebagai menejer PG, soal keuangan Chairudin memang tak ada masalah. Maka ketika mencoba mendekati Munasih, suwe mijet wohing ranti (baca: mudah sekali) untuk mendapatkannya. Hanya satu putaran, janda Munasih langsung bertekuk lutut dan berbuka paha untuk sang menejer.

Yang sulit dipahami, sebagai menejer PG kenapa untuk kencan dengan Munasih bukan memilih tempat ke hotel yang lebih terhormat. Dia malah memilih mendatangi lokalisasi Villa Palm, Lingkungan Plembon, Kelurahan Prigen. Di sini dia bersama Munasih langsung mengadu kekuatan, bertempur antara hidup dan mati. Tapi yang selalu terjadi, ibarat main tinju Chairudin selalu KO baru pada ronde ke-3 atau ke-4.

Malu sekali Chairudin di mata Munasih, masak seorang menejer kok hanya kuat di kantong bukan di entong. Perempuannya sih tak pernah mempermasalahkan hal itu, karena baginya: lebih cepat lebih baik, sebagaimana motto SBY-JK dulu. Tapi Chairudin yang selalu merasa minder, kok gampang kalah menghadapi perempuan.

Untuk memperbaiki mutu pertandingan, beberapa hari lalu dia berbekal obat kuat saat hendak mengajak Munasih ke kompleks Plembon. Dengan boncengan sepeda motor keduanya berangkat ke sana. Setibanya di Villa Palm kamar no. 1, Chairudin langsung menenggak 4 butir sekaligus obat kuat. “Badan kuat, rakyat sehat, negara kuat!” begitu kata Chairudin sebelum menuju ke medan pertempuran.

Tapi teori tinggal teori. Saat pertandingan dimulai, Chairudin hanya bisa memperpanjang durasi paling 1 menit. Habis itu dia langsung limbung, dan ambruk di pelukan Munasih. “Kepalaku pusing, kepalaku pusing,” kata Chairudin dan langsung tak sadarkan diri. Ketika dioyog-oyog (digerakkan), sudah tak bergerak lagi. Rupanya menejer PG itu sudah kadung wasalam.

Keruan saja Munasih menangis histeris. Entah karena kehilangan kekasih, atau takut jadi urusan polisi. Sebab meninggal di kompleks WTS memang jadi panjang urusannya.

Jangan-jangan menangis karena belum dibayar. (BJ/Gunarso TS)