Friday, 17 November 2017

Korupsi dan ke Roxy

Sabtu, 17 September 2016 — 6:10 WIB
dulkaging

“AKU benar-benar bingung nih,” kata laki-laki berpakaian serba hitam masuk ke warung kopi Mas Wargo dengan gerakan gaya jawara kelas Si Pitung.

“Bingung sih bingung, tapi masuk harus memberi salam dulu dong. Jangan ngeloyor saja kayak batang pisang hanyut,” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat.

“Nah, tu kan. Saking bingungnya gue lupa memberi salam. Kalau masih ada arwahnya ustadz H Marzuki pasti gue dikepret. Assalamu ‘alaykum,” kata orang bergaya Pitung yang memberi salam di akhir kalimatnya.

“Apa sih yang membikin abang bingung?” tanya Dul Karung yang duduk selang tiga di kiri orang itu.

“Koruptor dan KPK,” kata si gaya Pitung sambil meneguk kopi pesanannya. Sekali teguk setengah gelas kopi pindah ke perutnya tanpa permisi sama sekali.

“Lho kok yang begitu saja jadi bikin bingung? Koruptor itu orang yang melakukan kejahatan korupsi, dan KPK komite yang kerjanya memberantas korupsi dengan cara menangkapi para pelakunya. Iya tokh?” tanggap orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk para pelanggan Mas Wargo.

“Yah! Kalo itu sih anak ayam yang baru netes juga tahu,” kata si gaya Pitung.

“Yang bikin aku bingung kok dari hari ke hari makin banyak saja koruptor yang tertangkap. Alhamdulillah kalau semua itu terjadi karena KPK makin pandai memergoki, menjebak, dan mencium taktik para koruptor. Yang aku kuatirkan semua itu terjadi karena koruptor berkembang biaknya sudah lebih cepat daripada marmut. Kalau begitu kan bukan alhamdulillah yang harus kita sama-sama ucapkan, tapi astaghfirullah atau bahkan nauzubillah,” sambung si gaya Pitung membuat semua pendengarnya saling mengangguk.
“Aku kira, bahkan aku yakin dan hakul yakin, yang kedua itulah yang berkembang biak alias bertambah banyak,” komentar Dul Karung yakin dan mencoba meyakinkan pendengarnya.

“Wah! Itu artinya kau memperkecil kemampuan KPK dong,” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Astaga, bukan begitu maksudku. Dunia dan akhirat aku bersyukur membaca berita di koran dan menonton di tv, setiap hari banyak koruptor ditangkap KPK. Tanpa mengecilkan kemampuan KPK yang tentu seiring dengan bertambah umur dan pengalaman akan kian tajam pula kemampuannya menangkap koruptor. Tetapi, terus terang saja, ada juga kekuatiranku selain menaiknya kemampuan tangkap KPK terhadap koruptor, juga jumlah koruptor berkembang pesat. Kalau kemampuan tangkap KPK terhadap koruptor tiap hari naik dua kali lipat, kan boleh dibilang sia-sia saja bila kenaikan jumlah koruptor dalam sehari empat atau lima kali lipat?” kata Dul Karung serius.

“Ah tak menarik dan tak lucu omonganmu, Dul” potong orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Kalau mau yang lucu adalah cerita nenekku yang buta huruf dan dua orang tetangganya,” tanggap Dul Karung.

“Cerita dan lucunya bagaimana?” tanya Mas Wargo.

“Tetangga yang tinggal di kanan rumah nenek adalah seorang letnan yang ditugaskan di kesatuannya. Yang sebelah kiri juga seorang letnan tapi ditugaskan di sebuah perusahaan dagang milik negara. Pada masa itu, pertengahan tahun 1950-an, hal seperti itu adalah biasa.

Entah apa sebabnya, nenek sangat simpati kepada tetangga kanan rumahnya dan antipati kepada tetangga kirinya yang tampak jauh lebih kaya.

“Dia itu kaya karena ke roksi,” kata nenek ketika suatu hari dia menggunjingkan tetangga yang dibencinya itu.

“Apa salahnya orang ke Roxy, nek?” tanyaku.

“Nyolong duit negara kok ditanya apa salahnya?” kata nenek dengan galak.

“Oo itu? Namanya bukan ke Roxy nek, tapi korupsi.” Saat itu istilah korupsi memang belum umum digunakan orang.

“Cerita tentang nenekmu itu memang lucu. Tapi apa hubungannya dengan korupsi? Ceritamu itu kan cuma gambaran kebodohan nenekmu yang buta huruf,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan ketus.

“Hubungannya, sejak dijadikan sentra penjualan hp orang yang ke Roxy kan banyak sekali. Ya sama juga dengan orang yang korupsi,” kata Dul Karung seraya pergi meninggalkan warung. ( syahsr@gmail.com )