Monday, 24 September 2018

Ada Dashboard Informasi

RSUD Koja Hilangkan Diskriminasi Terhadap Pasien JKN-KIS

Sabtu, 17 September 2016 — 15:58 WIB
Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris saat mencoba dashboard informasi rawat inap di RSUD Koja. (kurniawati)

Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris saat mencoba dashboard informasi rawat inap di RSUD Koja. (kurniawati)

JAKARTA (Pos Kota) – Transparansi informasi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan melalui penyediaan dashboard informasi kamar rawat inap di rumah sakit menjadi terobosan yang sangat strategis pada pertengahan tahun ini untuk meningkatkan pelayanan kepada peserta JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat).

Dengan dashboard informasi ini maka cerita antrean panjang pasien JKN-KIS  tidak perlu terjadi lagi. Pun persepsi buruk masyarakat terkait pelayanan rumah sakit kepada pasien JKN-KIS yang sering dinomorduakan akan terpatahkan.

Pasien JKN-KIS yang ingin mengakses layanan di rumah sakit cukup datang ke papan dashboard informasi, lalu meng-klik tombol informasi kamar rawat yang diinginkan. Maka dalam hitungan detik, informasi ketersediaan kamar langsung terpampang.

Pilot project atau uji cobanya sudah dimulai di RSUD Koja Jakarta Utara awal Juni 2016 lalu. Sebanyak 8 papan dasboard siap memberikan informasi kepada pasien secara real time, setiap menit yang ditampilkan dilayar besar serupa televisi. Dan uniknya ketersediaan kamar rawat inap tersebut telah  disortir berdasarkan jenis kelamin pasien termasuk jenis penyakitnya.

“Dengan dashboard informasi ini maka setiap pasien bisa mengetahui ketersediaan kamar rawat juga informasi dokter dan poliklinik,” kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Kusmedi Priharto.

Dengan adanya informasi ketersediaan kamar, maka pasien JKN akan mendapatkan kepastian pelayanan dan rawat inap yang dibutuhkan. “Jika di RSUD Koja tidak ada kamar, maka pasien bisa dirujuk ke rumah sakit lainnya,” lanjut Kusmedi.

Diakui RSUD Koja menjadi salah satu rumah sakit provider BPJS Kesehatan dengan jumlah kunjungan pasien yang cukup tinggi dimana 90 persennya merupakan pasien peserta JKN-KIS. Tingginya angka kunjungan pasien tersebut membuat antrean panjang tak terelakkan utamanya saat harus menjalani rawat inap.

Selain dashboard informasi, RSUD Koja juga menerapkan  Anjungan Pendaftaran Mandiri untuk Poli Rawat Jalan. Di sini, juga terlihat berapa banyak pendaftar di masing-masing poli dan berapa pasien yang sudah dilayani.

Wawan, warga Tanjung Priok mengaku sangat terbantu dengan adanya dashboard informasi. Pengoperasiannya yang relatif mudah dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia memungkinkan peserta JKN-KIS dari kalangan masyarakat bawah pun mudah mengaksesnya.

“Dulu kalau mau berobat di RSUD Koja ambil nomor antreannya tengah malam atau subuh. Sekarang nggak perlu. Nyari kamar rawat juga lebih mudah. Kalau tidak ada kamar kosong kita bisa minta rujuk ke rumah sakit lain, tidak perlu menunggu lama,” katanya.

Mantapkan pelayanan

Transparansi informasi kamar rawat inap di RSUD Koja tersebut diakui  Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris, menjadi salah satu terobosan yang kini dilakukan BPJS Kesehatan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan kepada peserta JKN-KIS.

Dengan cara demikian maka peserta JKN-KIS terhindar dari antrean panjang tanpa kepastian layanan. “Jadi setiap pasien datang ke rumah sakit dengan satu kepastian dan jaminan pelayanan yang tepat waktu,” tukas Fachmi.

Menurut Fachmi pemberlakuan dashboard informasi tersebut sekaligus menghilangkan perlakuan yang diskriminatif terhadap pasien JKN-KIS.  “Tidak ada diskriminasi perlakuan terhadap pasien peserta JKN-KIS. Tidak ada lagi istilah pasien JKN-KIS merupakan pasien kelas dua. Semua diberlakukan sama,” ucap Fachmi.

Transparansi informasi melalui dashboard informasi kamar rawat inap ini sekaligus mematahkan  persepsi buruk ditengah masyarakat terkait layanan rumah sakit kepada pasien JKN-KIS yang ogah-ogahan. Karena kedudukan pasien JKN-KIS dengan pasien non JKN-KIS sama saja, tidak ada yang lebih diutamakan.

Diakui Fachmi upaya yang dilakukan oleh RSUD Koja ini sesuai dengan fokus utama BPJS Kesehatan pada 2016 yakni pemantapan pelayanan. Karena itu setelah RSUD Koja, BPJS Kesehatan juga akan mendorong transparansi informasi serupa di rumah sakit lainnya secara nasional.

“Kita ingin nantinya semua rumah sakit khususnya DKI Jakarta akan menerapkan sistem ini sehingga tidak ada istilah manipulasi kamar rawat inap dan memberantas adanya calo kamar rawat,” tukasnya.

Fachmi menegaskan komitmen BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan yang aman, efektif,  bermutu, dan tidak membeda-bedakan pasien. Keterbukaan informasi sangat dijunjung tinggi sehingga pasien tidak mendapatkan perlakukan yang diskriminatif.  (Kurniawati)