Tuesday, 13 November 2018

Daripada Cemburui Vibrator Mending Ceraikan Istri Saja

Rabu, 21 September 2016 — 6:20 WIB
udahmas

LELAKI paling malang di Surabaya mungkin hanyalah Tarmadi, 38, warga Rungkut. Sudah 5 tahun menikah dengan Era, 35, tapi sebagai suami hanya dijadikan pelengkap penderita. Dalam urusan ranjang, sang istri lebih senang memuaskan diri pakai vibrator. Ketimbang cemburui vibrator, akhirnya pilih bercerai saja.

Lelaki itu dalam rumahtangga kedudukannya sebagai kepala keluarga. Sebagai suami dialah yang memberi nafkah buat istrinya, baik nafkah lahir maupun batin. Tapi banyak juga pasangan yang tak bisa memenuhi kewajibannya secara seimbang. Getol memberi nafkah batin, tapi nafkah lahir pas-pasan. Sebaliknya, nafkah lahir selalu surplus, tapi nafkah batin kering kerontang.

Paling kasihan mungkin Tarmadi, warga Rungkut. Sebagai suami sebetulnya dia mampu memberikam keduanya, ya materil ya onderdil. Cuma istrinya tidak pernah puas, Dalam urusan ranjang, boleh dikata dia hanya dijadikan pemanas saja, selebihnya Era asyik memuaskan diri dengan vibrator kesayangannya.

Tarmadi ketemu Era sebetulnya bukan berangkat dari kisah cinta muda-mudi seperti biasanya. Mereka sama-sama sudah “udzur”. Tarmadi perjaka tua, dan Era jadi perawan alot kelat-kelot. Akhirnya kedua orangtualah yang menjodohkan mereka. Karena Era cantik, dan Era juga menganggap Tarmadi ganteng, keduanya pun sepakat menikah.

Secara ekonomi kehidupan mereka cukup mapan. Suami pengusaha dan istri dokter. Sayangnya, hingga kini mereka belum juga punya keturunan. Bagaimana punya keturunan, sebab pasangan suami istri itu tak pernah kompak dalam urusan ranjang. Jadi seperti Pemprov DKI di era Fauzi Bowo – Priyanto dulu. Semua dikerjakan Fauzi Bowo, sedangkan Wagubnya hanya dijadikan pajangan saja.

Nasib Tarmadi nyaris seperti itu. Tidur mereka memang seranjang. Era juga selalu memenuhi kewajibannya sebagai istri. Tapi ya itu tadi, Tarmidi hanya dijadikan ajang pemanasan saja. Ketika suami belum memperoleh kepuasan, Bu Dokter lalu mengasyikkan diri dengan vibratornya, yakni alat bantu seks pakai baterai.

Sebagai suami jelas-jelas Tarmadi tersinggung. Tapi ketika dia protes, istrinya tak menggubris. Justru ke mana-mana selalu membawa vibrator itu dalam tasnya. Era bisa memuaskan libidonya dengan barang elektrik itu, sementara Tarmadi yang katanya punya istri tapi sesungguhnya dia selalu jomblo dan kesepian.

Tak tahan menderita batin berkepanjangan, dia lalu menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Sebab Tarmadi ingin hidup normal, punya keluarga, punya istri dan anak yang menyayang dirinya sepenuh hati. Bukan dikalahkan oleh vibrator keparat.

Kalau vibratornya kehabisan baterai, bagaimana Era ngomelnya? (JPNN/Gunarso TS)