Wednesday, 14 November 2018

Pemerintah Agar Jamin Ketersediaan Obat Leukemia Melalui JKN

Jumat, 23 September 2016 — 8:09 WIB
rscm

JAKARTA (Pos Kota)- Penderita Leukemia Granulositik Kronik (LGK) meminta agar pemerintah memberikan jaminan ketersediaan obat LGK melalui sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sebab harga obat LGK yang sangat mahal membuat banyak pasien LGK tak mampu untuk melanjutkan pengobatannya.

“Kami tidak mungkin membeli obat ini tanpa subidisi pemerintah. Bisa dibayangkan untuk dosis sehari saja, rata-rata harga obatnya satu juta rupiah. Berarti kalau sebulan kami membutuhkan 30 juta rupiah,” kata Andrian, pejuang LGK di sela forum diskusi media bertema Transformasi Kelangsungan Hidup Penderita LGK bersama Novartis Indonesia.

Selain harganya yang super mahal, obat untuk LGK juga cukup sulit untuk diakses. Tidak semua rumah sakit memilikinya meski penderita LGK hampir menyebar rata di seluruh daerah.
Andrian mengaku ketersediaan obat LGK ini menjadi kunci penting penanganan penderita LGK di Indonesia. Sebab jika pasien LGK sampai drop out meminum obat LGK maka dipastikan bakal meninggal dunia. “Sekali menderita LGK maka seseorang harus meminum obat sepanjang hayatnya,” lanjut Andrian.

Dr Hilman Tadjoedin Sp PD KHOM, ahli Hematologo Onkologi Medik RS Kanker Dharmais mengakui obat LGK ini memang sangat mahal harganya. Pun tidak semua rumah sakit menyediakan obatnya.
“Di Jakarta yang notabenenya kota besar saja baru bisa diakses di RS Kanker Dharmais, RSCM dan RS Fatmawati,” katanya.

Menurutnya ketersediaan obat bagi penderita LGK ini sangat urgen. Mengingat jumlah penderita LGK cukup banyak di Indonesia. Data yang terdeteksi saat ini mencapai lebih dari 1.800 orang pasien. Dalam satu bulan rata-rata terdapat penambahan kasus baru antara 20 sampai 30 orang.

Dengan ketersediaan obat yang mencukupi, kata Dr Hilman maka setiap penderita LGK bisa hidup normal, beraktivitas layaknya orang sehat.
LGK sendiri merupakan satu jenis kanker darah yang timbul karena sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel-sel darah putih. Perjalanan penyakitnya cukup panjang tetapi gejalanya nyaris tak bisa dibaca oleh orang awam.

“Rasa begah, perut membesar, rasa seperti masuk angin atau seperti terkena maag. Itu gejala yang terdeteksi,” jelas Dr Hilman.
Saat ini dunia kedokteran di Indonesia terus berupaya melakukan penelitian untuk mendiagnosa penyakit LGK dengan teknologi dan ilmu baru. Hal ini dilakukan agar pasien LGK tidak perlu berobat ke luar negeri.

Sementara itu Arkadius Pichota, Head of Oncology PT Novartis Indonesia mengharapkan adanya kemitraan dari berbagai pihak untuk menangani masalah LGK ini. Sehingga upaya penanggulangan LGK akan terlaksana dengan baik.

Saat ini Novartis bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia, Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), dan Himpunan Masyarakat Peduli Leukemia dan GIST (ELGEKA) mengembangkan terapi target LGK. Terapi ini dikembangkan untuk memperlambat reproduksi sel-sel leukemia. Terapi ini juga bekerja untuk mengurangi tingkatan kanker penyebab terbentuknya protein pemicu sel-sel LGK. Beberapa pasien merespon sangat baik terhadap pengobatan dan mungkin mencapai keberhasilan dengan hampir tidak terdeteksinya sel-sel leukemia.

(faisal/sir)