Tuesday, 20 November 2018

Desa Sri Katon, Pesawaran Pusat Tanaman Hortikultura

Kamis, 29 September 2016 — 22:29 WIB
Bupati Pringsewu Hi Sujadi Saddad  resmikan tugu dan prasasti

Bupati Pringsewu Hi Sujadi Saddad resmikan tugu dan prasasti

LAMPUNG (Pos Kota) – Bupati Pringsewu Hi Sujadi Saddad resmikan tugu dan  tanda tangani prasasti sebagai wujud perjuangan petani, bersama Direktur Utama PT East-West Seed Indonesia (Ewindo), Direktur Sales dan Marketing Ewindo , di Desa Sri Katon, Adiluwih, Pesawaran, Lampung, Kamis (29/9) siang.

Bupati Pringsewu mendukung kerjasama antara petani dan PT Ewindo. “Saya sangat mengapresiasi kerjasama antara petani dengan PT Ewindo, karena ini merupakan upaya untuk kemakmuran masyarakat petani,”katanya.

Selain itu, ini merupakan kerjasama dua negara antara Indonesia Dengan Belanda. “Alhamdulillah, berkat kerjasama antara Petani Desa Sri Katon dan PT Ewindo, kini petani bisa merasakan hasil panen khususnya Hortikultura seperti, cabai, tomat dan lainnya, yang memuaskan. Bahkan para petani di Desa Srikaton sudah bisa mandiri.

“Kerjasama ini akan terus berlanjut. Tidak hanya di Desa Sri Katon, kita juga akan mengembangkan ke daerah Gadingrejo. Di Gadingrejo telah disiapkan lahan seluas 268 Hektar untuk penanaman Hortikultura yang kedepannya selain bisa mensejahterakan para petani baik dari hasil panen dan pariwisata Hortikultura,”tambahnya.

Sementara itu menurut, Direktur Utama PT Ewindo, Glen Pardede, kerjasama ini untuk meningkatkan daya saing petani dan produk pertanian melalui pembentukan klaster khusus hortikultura.

Sebagai produsen benih sayuran tropis ‘Cap Panah Merah’ PT East West Seed Indonesia (EWINDO) mendukung pembentukan klaster khusus hortikultura melalui peluncuran “Kampung Panah Merah” di Desa Srikaton, Adiluwih, Kabupaten Peringsewu, Lampung.

Kepala Desa Srikaton, Adek Gunawan merangkap Ketua Kelompok Tani Hortikultura menceritakan pengembangan klaster khusus hortikultura dirintis sejak tahun 1986. Pada masa itu terjadi peralihan kebiasaan petani yang sebelumnya didominasi oleh kebiasaan menanam tanaman pangan menjadi ke budidaya hortikultura. Hal ini diikuti dengan upaya penerapan inovasi dan teknologi budidaya tanaman yang lebih maju yang dikenalkan oleh Ewindo.

Budidaya hortikultura dan penerapan teknologi membuat pendapatan dan kesejahteraan petani Desa Srikaton meningkat secara signifikan. Sebagai gambaran, petani hortikultura yang mengelola lahan seperempat hektar dapat menghasilkan produk 2-3 ton cabai untuk sekali masa tanam dengan pendapatan sekitar Rp 60 juta. Sementara, dengan luasan yang sama petani hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp 6 juta, jika menanami lahannya dengan tanaman jagung pipil.

“Saat ini hampir 95 persen warga Desa Srikaton adalah petani hortikultura yang mengelola lahan pertanian sekitar 250 hektar. Tidak ada lahan menganggur di desa ini. Semua produktif untuk digunakan sebagai pengembangan budidaya hortikultura khususnya cabai, tomat dan terong,” cerita Adek Gunawan.

Keberhasilan pengembangan klaster hortikultura ini membuat Desa Srikaton selama beberapa tahun terakhir menjadi percontohan petani dari daerah lain sekaligus memotivasi petani untuk terus menekuni bidang usaha pertanian. Seperti disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) selama periode 2003-2013 sebanyak 5,1 juta keluarga tani terpaksa meninggalkan lahan mereka dan sebagian besar menjadi buruh di kota besar. Bahkan, selama periode Februari 2015 sampai 2016 tenaga kerja yang keluar dari sektor pertanian mencapai 1,8 juta (BPS Agustus 2016).

Selain peluncuran Kampung Panah Merah, pada kesempatan yang sama, Ewindo juga menyerahkan bantuan beasiswa kepada putera-puteri petani yang masih duduk di tingkat SD, SMP, dan SMA. Di luar itu, Ewindo juga mendorong tumbuhnya inovasi di kalangan mahasiswa melalui kegiatan lomba inovasi di bidang pertanian. Ewindo secara kontinyu juga melaksanakan program pembinaan kepada petani sayuran di seluruh Indonesia.(Koesma)