Monday, 19 August 2019

Pilkada: Politik Uang, No!

Jumat, 7 Oktober 2016 — 6:22 WIB
jalil

SEHARIAN Bang Jalil mondar mandir, nggak ada berhentinya. Sibuk banget. Ya, dia memang jadi tim sukses satu calon bupati dalam pilkada di daerahnya.

“ Halo, apa Bapak sudah siap bekerja keras untuk memenangkan pertarungan ini?” begitu suara yang terdengar di HP Bang Jalil.

“ Siap dong, saya kalau sudah ditunjuk dipercaya dikasih tugas, pasti akan bekerja total!” ujar Bang Jalil mantap.

“ Bagus, bagus. Bapak punya ide atau kiat-kiat memenangkan calon?”

“ Sudah ada di kepala saya, Pak. Itu nggak usah diragukan lagi. Yang penting, kasih saya uang yang cukup, semua beres! Pertama saya akan bikin sembako murah. Kalau perlu gratis. Tim saya akan melakukan serangan fajar! ” katanya.

“ Itu namanya politik uang, nggak boleh,” ujar sang istri tiba-tiba memotong pembicaraan suaminya.

Bang Jalil tertegun. Hemm, ternyata sang istri lebih bijak. Memang, dalam pilkada seharusnya kita fair, jangan ada yang main duit. Soalnya kalau sudah main duit, bahaya.
“ Banyak contoh Pak. Kalau dia nggak terpilih bisa gila, karena mikirin utang, sementara harta bendanya sudah habis buat beli suara. Nah, kalau dia menang, untuk bayar utang terpaksa korupsi. Belum selesai menjabat dia sudah ditangkap KPK. Kan jadi kacau semua?” kata sang istri.

“ Ibu sekarang tambah pinter?” kata Bang Jalil, memuji.

“ Ya, dong. jaman sekarang ini harus pinter, cerdas juga berpikir realitas, jangan mimpi. Kalau nggak bisa kena tipu. Sekarang ini banyak tukang tipu!”

“Mudah-mudahan, para calon pejabat yang kita usung nggak ingkar janji, ya Bu?” kata Bang Jalil sambil memberikan uang belanja pada sang istri.

“ Ini, bukan politik uang kan, Pak?” kata sang istri, bergurau.
Bang Jalil nyengir. –massoes