Thursday, 21 September 2017

Karomah dan ke Rumah

Sabtu, 8 Oktober 2016 — 5:50 WIB
dul-kar

0leh S Saiful Rahim

KETIKA mendengar ucapan assalamu alaykum yang fasih, seorang lelaki berkopiah yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya bangku yang ada di warung Mas Wargo, terlonjak kaget.

“Astaghfirullah,” ujarnya dengan suara yang mengejutkan semua hadirin. Dan bersamaan dengan itu Dul Karung muncul di pintu masuk warung kopi dengan wajah terperangah.

“Lho kok, orang memberi salam disambut dengan istighfar? Dulu belajar mengajinya pada ustadz siapa?” sambut orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan penuh heran.

“Ini bukan soal mengaji kepada ustadz siapa? Tapi aku benar-benar linglung. Kukira Dul Karung sudah bergelar almarhum sebagai salah seorang yang diduga dibunuh Kanjeng Dimas?” kata orang itu polos. Tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kenapa ada dugaan seperti itu di otakmu?” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

“Kubaca di media massa cetak dan tonton di tv disebutkan bahwa Kanjeng Dimas diduga telah membunuh dua orang bekas orang kepercayaannya. Seorang di antaranya bernama Abdul Ghani. Itu kan nama asli Dul Karung? Si Dul, teman kita yang banyak utangnya itu sebenarnya kan bernama Abdul Ghani. Karena orang Jakarta selalu menyebut Dul kepada setiap orang yang nama depannya Abdul, dan menyebut Goni untuk setiap kata ghani yang sebenarnya berarti kaya, maka Abdul Ghani teman kita itu oleh orang kampungnya di Karet sana, disebut Dul Goni. Lama-lama kata goni itu diganti menjadi karung. Maka ditahbiskanlah dia menjadi Dul Karung,” kata orang itu yang rupanya sedikit banyak mengenal betul riwayat nama Dul Karung.

“Wah, kalau Dul Karung yang terbunuh Mas Wargo pasti sudah membuat perhitungan,” komentar orang yang duduk selang tiga di kanan si Dul.

“Memang apa jasanya Dul Karung kepada Mas Wargo sehingga juragan warung kopi ini akan menuntut balas kepada pembunuhnya?” tanya seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Aku tidak mengatakan Mas Wargo akan menuntut balas, tetapi akan membuat perhitungan. Maksudku akan menghitung semua utang Dul Karung, dan mempertanyakannya kepada sang pembunuh siapa yang harus mempertanggung-jawabkan utang-utang tersebut setelah dia dibunuh?” sambung orang itu yang lalu disambut dengan kata “ooooo” yang panjang oleh pendengarnya.

“Sudah sudah sudah! Jangan memperolok-olokkan Dul Karung teruslah. Marilah kita berpikir sejenak mengapa Dimas Kanjeng bisa mendapat kepercayaan sedemikian rupa? Bukan hanya rakyat kampung dan kampungan yang bisa dibuat percaya bahwa dia punya karomah. Tapi orang yang berpendidikan tinggi setingkat doktor pun bisa yakin, dan rela melepaskan jabatannya yang terhomat demi membela sang kancil, eh sang kanjeng?” kata orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Begini!” potong orang yang duduk tepat di samping kiri Dul Karung. “Itu salah satu ekses yang timbul akibat mengultuskan manusia. Manusia itu ya manusia. Tidak sunyi dari kesalahan. Jadi jangan dipertuhan, walaupun ada yang mendapatkan karomah. Dan biasanya yang memiliki karomah itu justru jauh dari sifat-sifat keduniaan, seperti menggandakan uang dan lain-lainnya yang berkaitan dengan segala bentuk materi. Karena itu Rasulullah Saw pernah berkata kepada pengikutnya, “Aku adalah manusia seperti kalian.”

Ingatlah! 38 tahun yang lalu 918 pengikut Pendeta Jim Jones di Guyana, Amerika Selatan, membakar diri karena yakin akan bimbingan sang pemimpin yang menyatakan bahwa itu jalan yang paling pendek untuk menuju surga. Bahkan 22 tahun yang lalu di Kanada ada juga bunuh diri massal yang dikaitkan dengan ajaran “Newage” yang yakin Yesus tidak lama lagi akan datang sebagai penyelamat dunia yang makin kacau,” kata orang itu lagi.

“Barangkali Dimas Kanjeng itu bukan punya karomah, tapi suka bilang ke rumah,” kata Dul Karung yang tiba-tiba memotong omongan orang tersebut.

“Maksudmu bukan karomah, tapi “ke rumah,” itu apa Dul?” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk warung.

“Sang kanjeng itu bilang “ke rumah, ke rumah” maksudnya segala mahar yang berupa duit dan emas bawa ke rumahnya. Gitu aja kok gak ngerti,” jelas Dul Karung seraya pergi meninggalkan warung begitu saja. (syahsr@.com )