Sunday, 18 November 2018

Noda Para ‘Wakil Tuhan’

Kamis, 13 Oktober 2016 — 5:50 WIB
palu-hakim

“PAK Hakim dan Pak Jaksa, kapan saya akan disidang. Sudah tiga bulan aku mendekam, belum juga dapat panggilan. Saya sudah tidak tahan, tiap malam kedinginan, tidur di ubin tak bertikar, nyamuk-nyamuk menjengkelkan.
Saya ingin cepat pulang…”

Itu lagu dangdut ‘ Tembok Derita’ yang dilantunkan oleh Asmin Cayder. Tentu saja ini cerita seorang penjahat kelas teri. Mereka melakukan kejahatan karena terdesak perut yang harus diisi.

Yang jelas bukan keluhan dari tahanan atau napi kelas kakap, seperti bandar narkoba atau koruptor. Karena napi yang berkelas sih nggak usah mengeluh karena mereka punya duit. Mau apa juga bisa? Nggak usah berpikir kedinginan dan segala macam kekurangan di dalam ‘tembok derita’.

Mau keluar, jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri kayak Gayus? Atau menata ruang sel dengan sedemikian rupa, kasur, TV dan peralatan mewah? Atau asyik-asyik meneruskan bisnisnya? Seperti bandar nakoba, yang bisa menyetir anak buahnya membuat dan mengedarkan Narkoba di luar penjara?

Mengapa ini masih terus terjadi? Jawabnya, bisa tanya pada rumput, eh pada ranjang hotel yang bergoyang? Lho, iya itu tuh, kan ada hakim yang punya seabrek julukan yang terhormat, yakni ‘ Yang Mulya sebagai Wakil Tuhan, masih tega berbuat mesum. Berselingkuh dengan wanita lain, di kamar hotel?

Kasus yang begini, bukan sekali ini saja, sering terjadi. Hakim lelaki dan hakim perempuan, tega-teganya menodai ‘jabatan’ yang mulya. Mengumbar nafsu birahi. Memalukan!

Bukan itu saja, ada juga hakim menerima suap, terlibat narkoba. Kayaknya mereka lupa, kalau sudah dibaiat sebagai ‘Wakil Tuhan’, yang dengan palu di tanganya, bisa menyatakan orang bersalah atau tidak bersalah!

Nah, yang jadi pertanyaan jika hakim pada masuk bui, apakah lagu ‘Tembok Derita’- nya Asmin Cayder berlaku mewakili keluhan mereka?

Pada siapa minta tolong? Pak Hakim atau Bu hakim?

Ah, kan mereka sendiri pada meringkuk di dalam bui? – massoes