Wednesday, 14 November 2018

Nggak Punya Ongkos Boleh Numpang Nggak?

Selasa, 25 Oktober 2016 — 5:40 WIB
kaca

BANG Jalil mulai sibuk menerima proyek pemenangan dari pasangan calon pimpinan daerah.
“ Siap jadi tim sukses?”

“Siap!”

“ Siap memenangkan calon?”

“Siap!”

“Oke deh, kalo begitu. Tapi, ingat jangan main politik uang, politik sembako, atau politik barang! Kita melihat di lapangan. Para calon sudah bergerak, blusukan kemana-mana. Ya, lihat sendirilah. Ada yang bukan sekadar mengobral janji, tapi malah pakai embel-embel kasih barang pada masyarakat. Tuh, ada yang kasih kaca mata. Bagus sih, masyarakat yang penglihatannya remang-remang, bisa jelas sekarang. Itu sangat berguna kalau nanti mencoblos, jangan sampai nyasar. Begitu?”

“ Siap, Pak. Laksanakan!” ujar Bang Jalil semangat.

“ Bapak ngomong sama siapa, sih? Kok, gayanya kayak prajurit aja. Siap, siap segala?” tanya sang istri.

Bang Jalil mau menjelaskan, tapi sang istri malah yang bicara lagi:” Gini Pak. Jadi tim sukses itu harus punya ide yang cemerlang dalam menggaet pemilih. Sekarang ini orang nggak suka sama janji-janji. Cape. Yang realis sajalah.”

Bang Jalil mau ngomong, tapi sang istri nyerocos lagi; “Bapak sudah dikasih modal, belum? Semacam uang mahar, buat ongkos kampanye?”

“ Kan sudah dibilang, nggak boleh ada politik uang!” kata Bang Jalil.

“ Hemm, mana ada yang nggak pakai ongkos, Pak?” ujar sang istri, sambil meneruskan ucapannya;” Sekarang Ibu minta uang belanja, mau ke pasar. Jangan lupa ongkos angkotnya!”

“Ongkos?”

“Kalau nggak ada ongkos, memang Bapak nggak malu kalau Ibu nanti numpang sama sopir?” ujar sang istri.

Bang Jalil bungkam! -massoes