Thursday, 21 September 2017

MASUK – IN

Rabu, 26 Oktober 2016 — 5:40 WIB

“Ahok jadi juga cuti,” kata Soleh begitu tiba di Pos RW.

“Jadi lah. Kan sudah aturannya begitu,” kata Lukman.

“Ya aturannya kan bisa diubah kalau mau,” lanjut Soleh.

“Betul. Ahok juga minta begitu, nggak perlu cuti, maka ia lapor ke MK. MK baru putuskan 28 Oktober nanti, ini kalau nggak ada apa-apa,” kataku.

“Kupikir MK akan tetap pada aturan, harus cuti. Kalau nggak…,” aku berhenti bicara.

“Kalau nggak, kenapa,” desak Lukman.

“Ya berantakan,” kataku.

“Berantakan bagaimana,” desak Lukman lagi.

“Kan Menteri Dalam Negeri sudah siapkan Pelaksana Tugas Gubernur DKI. Rencananya besok dilantik. Apa nggak kacau,” kataku.

“Betul itu. Bakal terjadi kegaduhan. Sedangkan Jokowi sudah bilang jangan ada lagi kegaduhan. Lihat saja sekarang, Jokowi sudah bisa tenangkan partai-partai,” kata Soleh.

“Kalau begitu Ahok harus cuti tiga bulan,” kata Lukman.

“Bisa juga enam bulan,” kataku.

“Kenapa pula?” tanya Lukman.

“Kan aturannya begitu. Kalau pilkada satu putaran cutinya tiga bulan. Jakarta bisa-bisa dua putaran, kan calonnya ada tiga. Kalau dua putaran, cutinya enam bulan,” kataku.

“Ya, mudah-mudahan nggak ribut saja. Sudah pusing kita,” kata Lukman.

“Nah, kan lusa 28 Oktober 2016, Sumpah Pemuda,” kata Soleh.

“Betul. Memang kenapa” tanya Lukman.

“Ya kita prihatin soal bahasa kita ini. Lama-lama bisa hilang juga kayak beberapa bahasa daerah. Kalau pun tidak, maka bakal jadi bahasa nomor dua,” jawabku.

“Kenapa pula?” tanya Lukman.

“Kau lihat saja. Berapa banyak bahasa asing sudah masuk ke bahasa Indonesia. Solusi, padahal sudah ada penyelesaian. Signifikan, kurang berarti. Banyak lagi,” kataku.

“Ya juga, lama-lama bisa hilang, atau bisa jadi nomor dua,” kata Lukman.

“Maksudmu,” desak Soleh.

“Lihat saja sekarang, wc toilet, bukan kakus. Di pintu dipasang wellcome, bukan selamat datang, open bukan datang, push bukan dorong, pull bukan tarik,” kata Lukman.

“Ya juga. Jalan masuk ditulis in. Kenapa nggak dibikin, masuk – in, didulukan bahasa Indonesa, baru bahasa asing. Jadi nggak jadi nomor dua,” kataku. (lubis1209@gmail.com)