Wednesday, 22 November 2017

Gara-gara jadi Meme Populer, Bocah Afrika dapat Sumbangan Puluhan Juta

Jumat, 28 Oktober 2016 — 17:53 WIB
Jake tidak tahu bahwa dia telah menjadi sensasi di internet.

Jake tidak tahu bahwa dia telah menjadi sensasi di internet.

BOCAH berpipi tembem dengan ekspresi serius ini mungkin bisa membayar biaya pendidikan untuk seluruh desanya setelah fotonya menjadi meme populer di internet.

Jake telah menjadi salah satu siswa sekolah paling populer di Afrika Selatan sejak orang-orang mulai membagi fotonya dengan keterangan bernada lucu seperti ‘guru menyetir yang sering menggerutu’ atau ‘petugas keamanan yang tak terkesan.

Tetapi Jake yang hidup ribuan kilometer di utara, di desa kecil di Ghana timur, tidak tahu bahwa dia sudah jadi orang terkenal.

Bahkan, hingga Rabu lalu, orang yang mengambil foto itu pun tidak sadar bahwa fotonya sudah menjadi sensasi besar.

Seorang juru kamera Carlos Cortes mengunjungi Ghana pada 2015 untuk membuat dokumenter tentang Solomon Adufah, seniman yang pulang ke kampung halamannya dari Amerika Serikat.

Gambar Jake, yang saat itu berusia empat tahun, adalah satu dari ratusan foto yang diambil oleh Cortes ketika Adufah mengajar senirupa dan studi kreatif untuk anak-anak.

”Saya hanya merekam Jake saat dia mengajar,” kata Cortes dari Chicago kepada BBC. ”Dia memang memiliki pandangan kontemplatif di wajahnya.”

Carlos dan Adufah kemudian kembali ke AS, tidak mengetahui bahwa mereka telah merekam ‘bintang masa depan’.

Gambar Jake awalnya tersebar ketika Adufah mengunggahnya di akun Instagram.

Ketika dia menyadari foto itu menjadi viral, dia tidak tahu bagaimana bereaksi karena khawatir orang-orang mulai mengolok-olok Jake.

”Saya pikir, saya tidak akan merespons,” kata Adufah. ”Tetapi saya ingat momen ketika saya mengajar, bagaimana jika semua tanda ‘suka’ (di unggahan) itu berubah menjadi sumbangan nyata untuk membantu?”

Jake dan teman-temannya tinggal di desa terpencil dan sejumlah keluarga tidak sanggup membiayai anaknya ke sekolah. Sekolah dasar di sana pun kekurangan fasilitas.

“Saya ingat satu hari kami menghabiskan waktu 20 menit hanya untuk memastikan kami memiliki cukup pensil untuk anak-anak,” kata Cortes. ”Itulah inti kampanye kami.”

Jadi Adufah, yang tinggal di AS dari usia 16 tahun mengorganisir program penggalangan dana, dan berharap bahwa Jake akan menginspirasi orang-orang untuk membiayai pendidikannya dan mungkin anak-anak lain.

Dalam dua hari, mereka berhasil mengumpulkan sekitar US$5.000 atau lebih dari Rp70 juta – seperempat dari target mereka.

Adufah mengatakan, “uang ini bisa membawa perubahan besar untuk anak-anak di sana – ini bisa menjadi sesuatu yang sangat positif.”(BBC)