Tuesday, 18 September 2018

Hubungan Intim Berbayar Suami Pilih Bercerai Saja

Sabtu, 29 Oktober 2016 — 7:10 WIB
denda

MANA Ada kencani istri harus bayar? Oo, ada di Surabaya! Pelakunya Ny. Agustin, 40, istri Danarto, 47, pengusaha keramik. Alasannya, suami terlalu pelit memberi uang belanja. Karena Agustin punya bakat petugas pajak, maka sekali kencan minta bayaran Rp 200.000,- Suami “kecapekan” dana sehingga pilih talak.

Tahu kerja petugas pajak? Dia harus pintar menggali pos-pos pajak baru, yang bisa meningkatkan pemasukan negara dan pemasukan kantong bagi oknum-oknumnya. Maka kadang penetapan WP (Wajib Pajak) itu tak masuk akal. Masak di Indonesia ini orang bergaji Rp 5 juta kena pajak, padahal untuk belanja sebulan pas-pasan. Paling konyol, penulis buku dan artikel juga dipajaki 15 %, padahal di Indonesia ini belum ada sejarahnya orang bisa kaya hanya jadi pengarang/penulis.

Ibu rumahtangga bermental pegawai pajak itu di antaranya Ny. Agustin, warga Kupang, Surabaya. Memberikan nafkah batin bagi suami itu kan merupakan kuwajiban, tapi manakala dia tidak mood (baca: tak puas), langsung dicash Rp 200.000,- Tapi kata Agustin, hal itu terpaksa dilakukan karena Danarto sebagai suami terlalu pelit memberi uang belanja. Jaman sekarang diberi belanja Rp 1 juta sebulan, mana cukup?

Menikah 15 tahun lalu dengan Danarto, Agustin hanya mengandalkan kecintaan Danarto pada dirinya. Dia anak keluarga mapan, sedangkan suaminya itu hanya petugas pemasaran pabrik keramik. Soal tampang sih, Danarto memang jenis KW-1. Siku dan tak ada yang gumpil (cacat), sehingga bila dipasang oleh tukang yang ahli, natnya akan nampak bagus dan rata.

Ketika penghasilan Danarto masih minim, Agustin mau saja diberi uang belanja pas-pasan. Toh masih ada subisidi dari orangtuanya. Lagi pula soal tempat tinggal juga tidak bayar, karena Danarto selama ini memang tinggal di Mertua Permai tipe 200/300 yang bebas cicilan ke BTN.

Tapi ketika orangtuanya sudah meninggal, subsidi mertua itu dengan sendirinya terhenti. Bersamaan dengan itu, rejeki Danarto juga membaik. Bila dulu hanya tenaga pemasaran, kini sudah punya toko keramik sendiri. Tapi anehnya, dana APBN keluarga tak pernah ada perubahan, tetap saja Rp 1 juta dalam sebulan. Agustin berulang kali mengajukan APBN-P, tapi selalu ditolak. Lagaknya Danarto ini sudah seperti DPR saja.

Untungnya Agustin ini punya bakat terpendam sebagai petugas pajak. Untuk menggali uang untuk mendanai rumahtangganya, dia menciptakan terobosan baru. Bila suami mengajak hubungan intim, harus ada “tax amnesty”-nya. Bila Agustin merasa puas, tak ada pungutan. Tapi bilamana Danarto “selesai” duluan, dia harus bayar tunai Rp 200.000,- Prinsip Agustin, silakan singkap, tembus, lega; tapi bayar Rp 200.000,-

Karena sering kecapekan, pengusaha keramik ini sering KO duluan, sehingga dalam sebulan dia bisa kena cash sampai Rp 1,6 jutaan. Awalnya sih dia rela-rela saja dijadikan WP urusan ranjang, tapi karena semakin keseringan, “legrek” (bosan) juga sebagai suami. Maka Danarto pun menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya, sekalian minta pembagian harta gono-gini.

Ternyata Agustin santai-santai saja menghadapi manufer Danarto, yang “manuk”-nya tak lagi menjanjikan itu. Silakan saja harta dibagi, wong mayoritas sudah atas nama anak-anaknya. “Lelaki pelit model Danarto memang harus diberi pelajaran,” ujarnya.

Habisnya, benggol dan bonggol tak berbanding lurus. (JPNN/Gunarso TS)