Tuesday, 23 January 2018

Wawancara Imajiner dengan ‘Orang Pinter’

Sabtu, 29 Oktober 2016 — 6:22 WIB
dahlan

BAGAIMANA tanggapan Bapak setelah ditetapkan sebagai tersangka?”

“ Saya tidak kaget dengan penetapan sebagai tersangka, dan ditahan. Saya memanag sedang diincar terus oleh yang berkuasa. Biarlah ini baru pertama kali, orang yang mengabdi dengan tanpa digaji, tanpa menerima fasilitas, tidak menerima uang sogokan, bukan karena meneriuma aliran dana, hanya karena membuhi tanda tangan yang disodorkan oleh anak buah, tapi jadi tersangka!”

“ Bapak kan orang pinter, kok mau saja disuruh tanda tangan anak buah?”

“ Hehehehe, saya orang pinter ya? Hemm, tapi saya nggak pinter ngeles, nggak pinter berkilah, nggak pinter menolak ketika anak buah saya nyodorin berkas untuk ditandatangani. Nggak pinter membeli aset untuk negara, eh malah ikut menjual dengan harga murah, ya?”

“ Ya, kerugian negara ratusan milyaran?”

“ Oooo…?”

“Tapi, Bapak kan tetap orang pinter.”

“ Orang pinter masuk penjara, ya hehehe..?”

“ Apakah Bapak menyesal pernah jadi pejabat?”

“ Saya nggak mau komentar. Tapi, Saudara lihat sendirilah di luar sana. Banyak kan orang yang kepingin jadi pejabat?”

Wawancara selesai. Suasana di dalam sel penjara hening. Tapi di luar sana hiruk pikuk. Ada ratusan orang, mungkin ribuan sedang berebut kursi jabatan. Walikota, bupati dan gubernur.

Semua berambisi, harus jadi. Padahal, sebagian orang terutama masyarakat ikut menasehati; Silakan bertarung, tapi ingat harus siap. Siap menang dan siap kalah!
Ada lagi nasihat dari mereka, jangan lupa pada janji membangun negeri ini. Jangan ingkar janji pada rakyat, jangan berebut proyek, jangan menjarah uang negara. Sanggup?

Nggak mau ikut campur urusan penguasa dan bekas penguasa. Tapi bagaimana caranya jadi orang pinter, kemudian nggak terjerumus masuk penjara? -massoes