Saturday, 23 February 2019

Pedagang Kopi Keliling, Penghasilannya Lebih Besar dari UMP

Selasa, 8 November 2016 — 14:36 WIB
Pedagang kopi keliling, Rahman bersama temannya di kawasan Kebon Sirih, Jakpus. (Joko)

Pedagang kopi keliling, Rahman bersama temannya di kawasan Kebon Sirih, Jakpus. (Joko)

PEDAGANG minuman keliling menggunakan sepeda merupakan pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang sangat tahan banting. Berdasarkan pengalaman, keberadaan penjual aneka minuman seperti kopi, teh, sirup,  rokok, dan lainnya, tak pernah mati meski dihajar krisis moneter berkepanjangan.

Pedagang tangguh ini juga tak pernah menyerah meski kesehariannya sering diuber-uber jajaran Satpol-PP DKI Jakarta yang bertugas menegakkan ketertiban umum.

“Alhamdulillah, saya berdagang jualan kopi bisa menghidupi istri dan anak di kampung,” tutur Rahman, pedagang yang tiap hari mondar-mandir menggunakan sepeda di kawasan Monas dan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (8/11).

Dari pekerjaan yang ditekuninya sejak lima tahun lalu, dia rata-rata tiap hari memperoleh keuntungan sekitar Rp 150 ribu. “Kalau dikumpulkan tiap bulan, penghasilan dagang minuman lebih besar dibandingkan pekerja pabrik dengan upah UMP Rp 3,1 juta,” tambahnya.

Menurutnya, pedagang minuman bersepeda di wilayah DKI Jakarta, kebanyakan didominasi pendatang asal Madura, Jawa Timur. “Kebanyakan berasal dari Pamekasan, Madura. Daripada di kampung gak bisa cari uang, mendingan ke Jakarta, asal mau bergerak pasti dapat uang,” kata Rahman yang tinggal di rumah petak kontrakan kawasan Kwitang, Senen, Jakpus.

Untuk menjalani pekerjaan ini tak membutuhkan modal besar, asalkan ulet tahan banting. “Harus ulet jualan di tengah panas terik dan hujan,” ujar ayah dari satu anak.

Modal awal sekitar Rp 2,5 juta buat beli sepeda dan perlengkapannya, termasuk bahan minuman yang dibelinya dari pasar swalayan. Dalam sehari, omset penjualan antara Rp 300 ribu dan Rp 400 ribu, adapun keuntungan sekitar 30 persennya.

“Lumayanlah, daripada bekerja sebagai petani atau pengrajin garam di kampung, hasilnya tidak seberapa,” kata Rahman yang menjual aneka minuman dengan harga rata-rata Rp 3 ribu/gelas.

Menurutnya, keuntungan harian berkisar Rp 150 ribu, cukup untuk biaya hidup hemat di Jakarta dan mengirim uang buat keluarga di kampung. “Saya ngontrak rumah petak di Kwitang seharga Rp 2,5 juta setahun atau Rp 300 ribu/bulan. Biar hemat makan di warteg atau masak di rumah. Tiap tiga bulan pulang kampung sambil ngasih uang buat istri,” papar Rahman. (Joko/win)