Wednesday, 22 November 2017

MUDAH-MUDAHAN BISA JERNIH

Rabu, 9 November 2016 — 5:28 WIB

“Sabtu kemarin tak ada kulihat kau. Ke mana?” tanya Lukman begitu sampai di Pos RW.

“Anak mengajak ke Bandung,” jawabku singkat.

“Kupikir kabur habis unjuk rasa hari Jumat,” potong Soleh.

“Tak ada ceritanya itu. Unjuk rasa itu wajar dan baik. Cuma memang sudah diperkirakan sebelumnya adanya provokator. Dan memang sekarang sudah ada yang ditangkap,” kataku.

“Kita harapkan polisi cepat mengungkapkan siapa dalang yang bikin rusuh itu,” kata Lukman.

“Wah, kerja polisi sekarang cukup berat. Paling tidak dalam tempo dua minggu ini sudah harus menggelar perkara kasus Ahok yang dituduh menista agama. Belum lagi mengungkap aktor politik yang memanfaatkan kerusuhan tersebut,” kata Soleh.

“Kupikir polisi akan sanggup mengungkapkannya. Dan bagus juga gelar perkara itu dilakukan secara terbuka, untuk menghilangkan kesan kasus itu seakan bakal ditutup-tutupi,” kataku.

“Betul itu. Jadi masyarakat juga bisa menilai. Sekarang ini kan ada perbedaan terhadap ucapan Ahok di Kepulauan Seribu yang jadi masalah,” kata Lukman.

“Kita tunggu saja gelar perkaranya, kita kan bukan ahlinya,” kataku.

“Baiknya begitu. Cuma ada yang menyesalkan kepada Jokowi tidak mau menerima utusan para pengunjuk rasa malam itu. Kalau saja mereka diterima, rasanya aman,” kata Soleh.

“Kan sudah JK bersama beberapa orang lagi menerimanya,” kataku.

“Ya, kenapa nggak Jokowi saja. Selama ini kan ia selalu blusukan menemui warga. Sekarang warga mau menemuinya, kok nggak diterima. Apa dianggap ini bukan blusukan, ” kata Lukman.

“Nggaklah. Bagusnya Jokowi menerimanya. Mungkin waktu itu ia belum di istana,” kataku.

“Kita lihat sajalah perkembangannya. Mudah-mudahan pemerintah bisa menjernihkan keadaan ini semuanya,” kata Soleh.

“Betul. Jangan kayak Walikota Bandung, Kang Emil,” kataku.

“Maksudmu apa mengaitkannya dengan Kang Emil?” desak Lukman.

“Ya kan Kang Emil itu sempat dijuluki Wagiman, Walikota Gila Taman. Memang banyak taman sudah diberesi. Cuma ia belum bisa menjernihkan Cikapundung. Lihat saja, masih ada sampah, airnya masih kotor, belum jernih,” kataku.

“Itu sama dengan di Jakarta. Dulu katanya Ahok mau bikin jernih, kabarnya sudah didatangkan ahlinya dari luar. Didulukan yang di Istiqlal. Tapi nggak-nggak juga itu,” kata Soleh.

“Mungkin tak diingatnya lagi. Habis menumpuk masalah yang dihadapinya,” kata Lukman.

“Ya kalau nanti ia jadi Gubernur DKI lagi, kalau nggak..,” kataku.

“Ya selesai,” kata Soleh dan Lukman serempak. (lubis1209@gmail.com)