Thursday, 21 September 2017

Unzur Ma Qala

Sabtu, 12 November 2016 — 6:15 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“Nah, ini Dul Karung. Mari kita tanya pendapat teman kita yang satu ini,” kata orang yang duduk di dekat pintu warung kopi Mas Wargo seraya bergeser memberi tempat untuk si Dul duduk.

“Ada apa nih?” tanya Dul Karung dengan suara enteng sambil tangannya mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Soal banjir bandang di Bandung. Semua hadirin di sini sepakat bahwa banjir itu luar biasa hebat. Sebelumnya kami belum pernah mendengar kabar, apalagi melihat, banjir yang seperti itu menimpa kota peuyeum tersebut,” jawab orang itu yang disambut anggukan beberapa hadirin yang lain.

“Wah, maaf. Aku gak berani ngomong sembarangan. Menurut leluhur kita yang bijak, mulut kita adalah harimau kita. Maka siapa saja yang ngomong sembarangan akan diterkam omongannya sendiri. Karena itu kalau mau tahu apa penyebab banjir di Bandung sekarang ini lebih hebat daripada banjir di Jakarta, tanyakan saja kepada para ahlinya,” jawab Dul Karung dengan gaya dan kalimat yang dipikirnya sama dengan jawaban seorang bijak bestari yang tidak mau bicara sembarangan.

“Bukankah karena Jakarta sekarang sedang kebanjiran orang marah, sehingga air pun tidak berani datang,” kata seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

Beberapa hadirin warung kopi tersebut tampak terhenyak mendengar ucapan itu. Tapi beberapa yang lainnya hanya mengulum senyum.

“Wah, jangan ngomong sembarangan begitu dong. Kata orang Betawi, orang yang suka ngomong sembarangan bermulut comberan. Dan comberan adalah sebutan untuk got yang paling kotor dan amat menjijikkan. Orang yang suka ngomong sembarangan, walaupun dia seorang gubernur, bahkan presiden sekalipun, jangan didengarkan. Apalagi dijadikan pemimpin. Malah mereka yang dulu memilih atau mengangkat orang yang seperti itu menjadi pemimpin harus banyak beristighfar. Minta ampun kepada Allah,” serobot orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya bangku yang berada di warung Mas Wargo.

Hadirin yang mendengarnya kembali ada yang terhenyak dan ada pula yang tersenyum.

“Makanya sejak 15 abad yang lalu, sahabat Rasulullah Saw yang paling cerdik, Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah bersabda “Unzur ma qala, wala tanzur man qala.” Artinya, perhatikan apa yang dikatakan, jangan pedulikan siapa yang mengatakannya. Walaupun gelandangan kaki lima kalau omongannya benar turutilah. Tetapi sebaliknya, meskipun presiden, apalagi hanya sekadar gubernur, kalau ucapannya gak karuan, tinggalkan saja,” kata Dul Karung.

“Kalau perlu gebukin, ya?” potong seseorang yang tak dikenal Dul Karung.

“Wah, kalau gebukin sih jangan. Untuk mengusir anjing, kita yang manusia kan gak perlu menggonggong,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung kopi Mas Wargo, sehingga dia tak mendengar gurauan orang yang berkata, “Kalau orang yang berutang melulu boleh digebukin apa tidak?” (syahsr@gmail.com )