Monday, 24 September 2018

Guru TK Kok Masuk Sore, Mau Ngapain di Sekolah?

Senin, 14 November 2016 — 5:29 WIB
gre

DI mana-mana guru TK itu mengajar di pagi hari. Tapi di Wonogiri (Jateng), Ny. Wiwin, 30, justru masuk kelas pukul 17.00. Mau ngapain? Ternyata dia punya murid, Jazuli, yang berusia 28 tahun, dan sudah kumisan dan pakai celana panjang. Warga pun curiga, sehingga  keduanya digerebek dan disidangkan.

Murid TK baik nol kecil maupun nol gede, selalu masuk kelas pagi hari, paling  dari jam 07.00 hingga 09.00. Di situ anak-anak memang hanya bermain dan nyanyi- nyanyi “balonku ada lima”. Sementara murid diajar Bu Guru, ibu-ibu selaku orangtua  anak nunggui di luar sambil ngerumpi membiacarakan macem-macem dari urusan dapur
hingga keluarga.

Bu Wiwin dari Wonogiri, selama ini mengajar TK di Kecamatan Jatisrono. Dia merupakan guru wiyata bakti alias honorer, yang belum diangkat jadi guru negeri, apa lagi dapat sertifikasi. Biasanya dia mengajar di pagi hari, pulang sekitar pukul 10.00. Tempat tinggalnya memang tidak jauh dari gedung TK tersebut.

Tapi beberapa hari lalu tiba-tiba saja dia masuk sore, artinya: dia datang ke  gedung sekolah sudah pukul 17.00. Ada apa ini? Apakah murid-murid TK itu mau  menerima pelajaran menjelang maghrib? TK model mana pula ini, masuk sekolah kok di  sore hari?

Ternyata sore itu Bu Guru sedang janjian dengan seorang lelaki, perjaka bernama  Jazuli. Setelah dia datang, dipersilakan masuk kelas. Bahkan motor yang biasanya  diparkir di halaman sekolah, diminta dimasukkan sekalian ke ruangan kelas.

Tambah mencurigakan, meski susana mulai gelap tapi lampu tak juga dinyalakan. Gerakan-gerakan mencurigakan itu ternyata sedang diamati sejumlah pemuda  setempat. Mereka curiga akan gerak-gerik dua orang di dalam sekolah TK itu. Mau  ngapain bergelap-gelap di sekolah TK. Takut terjadi hil-hil yang mustahal, pemuda
lalu menggerebek sekolah itu. Yang ditemukan ternyata hanya Bu Gutu Wiwin,  sedangkan pemilik sepeda motor tidak ada.

Ketika Bu Gutu pulang ke rumah, pemuda segera menggeledah segenap ruangan. Nah, ditemukan ada seorang lelaki sembunyi di kolong meja. Nah, semakin mencurigakan, kan? Bu Guru dipanggil kembali dan dipertemukan. Ternyata keduanya mengaku tak berbuat apa-apa, mereka sekedar teman lama.

Keduanya lalu diserahkan Pak Kades untuk disidangkan. Karena tak ada bukti- bukti perzinaan, keduanya hanya diminta bikin pernyataan tertulis, untuk tidak  mengulangi perbuatannya. Tapi pamong desa minta, agar Bu Guru Wiwin dikeluarkan  dari TK tersebut, karena sudah merusak nama sekolah TK itu. “Kami merintis sekolah
TK ini cukup lama. Ee, setelah banyak murid, dirusak oleh kelakuan gurunya.” Kata  seorang pamong desa.

Lalu bagaimana? Dimaafkan atau diproses hukum cepat dan tepat? (SP/Gunarso  TS)