Tuesday, 23 July 2019

Anak Penjual Nasi Uduk Menjabat Kapolsek

Selasa, 15 November 2016 — 9:11 WIB
AKP Wawan

AKP Wawan

JANGAN engkau terus meratapi nasib hanya karena takdir terlahir dari keluarga tak mampu. Tapi yakinlah, nasibmu akan berubah, jika engkau pasrah dalam iman kepada Allah dalam segala perbuatanmu.

Filosofi inilah yang menjadi pegangan bagi anak ke delapan dari sepuluh bersaudara ini.

Lahir dari anak pasangan dimana ayahnya berprofesi sebagai pekerja serabutan dan ibunya seorang penjual nasi uduk dan pisang goreng keliling, tidak membuat semangat lelaki ini minder.

Justru sebaliknya, ia memiliki tekad dan semangat, merubah derajat hidup keluarganya. Perjuangannya untuk menjadikan hidupnya bisa berguna bagi orang lain dari kesederhanaannya, membawanya menjadi seorang polisi.

Pria dengan semangat dan cita-cita mulia ini adalah Wawan Wahyudin. Ia lahir di kota kembang, Bandung tanggal 7 September 1963 dari pasangan Akhil dan Siti Rohmah.

“Saya tak ingin meratapi nasib, hanya karena terlahir dari orangtua yang penuh kesederhanaan. Alhamdulillah Allah menyempurnakan cita-cita dan harapanku. Tiap kali engkau memperbaiki niatmu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu. Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yang tak kau duga,”kata Wawan mengenang.

AKP Wawan dan istri

Saat dinyatakan lulus tahun 1986 saat mendaftar sebagai calon polisi tahun 1985 di Bandung, sukacitapun menjadi miliknya.

Wawan yang masuk kepolisian dari Polda Jawa Barat lewat jalur Secapa, lalu ditempatkan di Polres Bogor bagian Bhabinkamtibmas saat selesai pendidikan di Tegallega Bandung.

Bahkan Wawan muda dulu mencari uang jajan dan biaya untuk masuk polisi dengan berjualan rokok dan pisang goreng serta ketan bakar keliling kampung.

Namun ia merasa sedih, di saat baru berdinas 2 tahun, sang ayah dipanggil sang pencipta kala memasuki usia 62 tahun.

“Saya anak ke delapan. Kami semua sepuluh saudara. Bapak saya kadang bantu ibu jualan pisang goreng. Kadang jadi sopir angkot dan bertani di sawah. Bahkan suka bantu di mesjid. Pokoknya apapun dia kerjakan demi dapat uang secara halal. Kalau ibu jualan nasi uduk keliling. Walau demikian, bapak dan ibu sangat memperhatikan pendidikan kami. Mereka tidak ingin kami berhenti sekolah. Saya memutuskan masuk polisi. Saya dinyatakan lulus dan ikut pendidikan selama satu tahum. Begitu pulang pakai seragam polisi, orangtua senang sekali. Bahkan itu berkali-kali tanya benar saya adalah seorang polisi,”kata Wawan.

Pilihannya menjadi penegak hukum, dan resmi berseragam cokelat, ia bulatkan dalam mengabdi kepada bangsa dan negara serta rakyat.

Jenjang kepangkatan berjalan seiring lamanya berdinas. Kini pria anak penjual nasi uduk dan pisang goreng ini menyandang pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP)

Perwira menengah (pamen) ini, kini dipercaya Kapolresta Bogor Kota, AKBP Suyudi Ario Seto untuk menjabat sebagai Kapolsek Bogor Utara.

AKP Wawan yang nanti pada bulan Januari 2017 mendatang akan naik pangkat menjadi Komisaris Polisi (Kompol) ini berhasil meraih gelar sarjana hukum dari STIH Jakarta.

Atas ketekunan menyelesaikan studi S1 ini, kini dibelakang namanya menempel gelar SH. Sebuah perjuangan yang patut di apresiasi.

Dari perkawinannya dengan Supriani, wanita yang mendampinginya selama ini, mereka dikaruniai seorang anak yang kini menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi.

“Saya syukuri berkah dari Allah dengan mengajak istri naik haji. Kami diberi keturunan lalu bisa menunaikan ibadah haji. Saya merasa hidup ini sempurna. Dukungan keluarga dan kepercayaan pimpinan sehingga bisa menduduki pisisi kapolsek, ia apresiasi. Anak juga saya didik untuk hidup sederhana. Dia berangkat kuliah naik angkot. Kadang naik ojek online,”katanya bersyukur.

Kapolresta Bogor Kota, AKBP Suyudi Ario Seto mengatakan, jabatan kapolsek diberikan ke anggota polisi yang berprestasi.

Dirinya selaku pimpinan, tidak melihat latar belakang dan strata sosial dalam menempatkan anggota disebuah posisi atau jabatan.

“Anggota polisi yang punya prestasi saya beri kepercayaan untuk mengisi jabatan. Saya tidak memberi jabatan ke anggota hanya karena dia orang kaya atau datang dari keluarga strata tinggi. Yang saya butuhkan itu polisi yang mau bekerja,”kata AKBP Suyudi.

AKP Wawan Wahyudin yang selama kariernya pernah bertugas di Bhabinkamtibmas selama 13 tahun lalu di SPN Cisarua srlama 2 tahun,

Kanit Reskrim Polsek Cisarua selama 2 tahun, Wakapolsek Gunung Putri, Kapolsek Sukaraja, Kapolsek Nanggung serta Wakapolsek Citeureup selama 3 tahun, menurut AKBP Suyudi, menjadi dasar dan modal bagi yang bersangkutan untuk menjabat Kapolsek Bogor Utara.

(yopi/sir)