Wednesday, 24 July 2019

Tergantung Niatnya, Bung!

Rabu, 16 November 2016 — 6:00 WIB
baik

“ BAPAK sudah blusukan ke mana saja?”

“ Ya, ke mana-mana deh.”

“ Bagus. Kita ini harus tahu momen, harus bisa mengambil kesempatan untuk mengambil hati rakyat. Misalnya datang ke pasar-pasar, ke gang-gang yang sering kebanjiran. Terus tuh daerah yang bakalan digusur, atau ke korban gusuran. Nah, disitu bisa mengobral janji. Nanti kalau menjabat, nggak bakalan ada gusuran, nggak ada banjir, nggak ada kemacetan. Beres,deh!”

“ Lah, kalau masih ada gusuran, masih ada banjir, masih ada kemacetan gimana?”

“Itu urusan nanti…” ujar seseorang yang bicara pertelepon dengan Bang Jalil.

“Oooo.., gitu ya?” Bang Jalil nggak mau lama-lama bicara sama sang kawan, takut salah ngomong. Lalu menutup HP-nya.

“ Nggak bisa begitu Pak, kalau mau dicintai rakyat ya harus memegang janji. Kalau bisa sejak awal para calon itu nggak sekadar janji omong doang. Tapi harus ada yang realitas!” ujar sang istri.

“ Maksud Ibu?” Tanya Bang Jalil.

“ Semua orang tahulah. Misalnya, kalau kunjungi warga ya bawa oleh-oleh.”

“ Wah, nggak bisa itu Bu. Itu namanya money politics! Politik uang, itu dilarang!”

“ Gini Pak. Yang namanya politik uang itu kalau ada apa-apanya. Calon kasih sembako, kasih duit sama warga, terus minta supaya mencoblos atau melilih dia. Itu namanya politik uang. Tapi kalau ikhlas, nggak ada pamrih, kan nggak apa-apa? Kan soal memilih nanti di bilik suara?” kata sang istri .

Sebelum Bang Jalil menjawab, dia bicara lagi;” Ya seperti Bapak kasih belanja Ibu selama ini, kan ikhlas? Jadi, semua tergantung niatnya, Pak.”

“ Tapi…”

“ Nggak ada tapi-tapian. Udeh deh mana duitnya, Ibu mau belanja.”
Kata sang istri.

Bang Jalil menyodorkan uang .

“ Ini bukan money politik kan Pak?” kata sang istri sambil tersenyum.
Bang Jalil juga tersenyum. Senyum kecut! –massoes