Tuesday, 25 September 2018

Jalan Pintas Itu Bukan untuk Ditiru

Kamis, 17 November 2016 — 6:02 WIB
bunga

KALAU cinta sudah melekat, apa saja terlihat indah. Gunung indah, lembah indah, hutan indah,langit indah, lautan pun indah. Bahkan banjir, petir dan badai pun indah. Termasuk racun pun indah dan lezat. Ruarrr biasa!

Mau bukti? Lihat tuh ada sejoli, sudah lama berhubungan seia sekata, jatuh hati. Masing-masing sudah menyatakan cinta setengah mati dan sampai mati, mereka memilih mati bareng, dengan menenggak racun.

Mereka bunuh diri. Dan itu dilakukan secara sadar, sebagai pilihan yang kayaknya sudah tidak lagi ada jalan lain. Mereka memilih mati. Lagi-lagi, inilah cinta yang sebegitu dahsyatnya sampai nyawa pun tak sayang dipertaruhkan.

Tidak ingin membenarkan apa yang dilakukan pelaku bunuh diri, tapi marilah berpikir jernih untuk melestarikan hidup. Memang nggak ada jalan lain, selain menyelesaikan dengan mati. Kan kita percaya pada takdir bahwa hidup, mati, rezeki dan jodoh sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, Allah SWT? Mengapa juga harus buru-buru mengambil jalan pintas, mengejar mimpi yang tak pasti, kata Ebiet G Ade?

Memang banyak kasus yang sama telah terjadi, dan kalau mau dihitung jumlahnya banyak banget. Kasus sejoli bunuh diri, sudah terkenal sejak dulu kala, seperti yang diceritakan dalam kisah Romeo dan Juliet. Ini kisah cinta yang tragis dan mengharukan. Boleh ditonton sebagai hiburan dan lebih dari itu bisa diambil hikmahnya. Tapi karya legendari William Shakespare ini bukan untuk ditiru jalan pintas para tokohnya.

Memangnya setelah mati, persoalan selesai? Tidaklah. Masih banyak yang ditinggalkan dan sangat membebani yang masih hidup. Keluarga yang ditinggal pasti kehilangan, dan menanggung kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan.

Lalu, menurut agama, bunuh diri kan dilarang? Masa mau memilih kesangsaraan dan derita di dunia dan akhirat? -massoes