Thursday, 13 December 2018

Kampung Jengkol Kelapa Gading Kumuh, Anies Janji Tata Ulang

Kamis, 17 November 2016 — 22:09 WIB
Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan dan istri disambut iringan hadroh dan arak-arakan warga saat blusukan ke Kampung Warung Jengkol, RW 013, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (17/11/2016). (julian)

Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan dan istri disambut iringan hadroh dan arak-arakan warga saat blusukan ke Kampung Warung Jengkol, RW 013, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (17/11/2016). (julian)

JAKARTA (Pos Kota) РCalon Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan berencana menata ulang Kampung Warung Jengkol, RW 013, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tujuannya agar kesan kampung kumuh tidak lagi melekat sekaligus  untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman dan nyaman bagi warga setempat.

Anies menegaskan, penataan nantinya akan dilakukan secara manusiawi. Tanpa penggusuran. “Kalau pun ada pemindahan, kita akan lakukan dengan cara manusiawi,” katanya, saat blusukan di kampung tersebut, Kamis (17/11/2016).

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemindahan yang akan dia lakukan di antaranya dengan mencarikan tempat tinggal baru yang harganya terjangkau. Kemudian terbuka akses transportasi, kesehatan dan pendidikan serta yang paling penting dekat dengan tempat kerja mayoritas warga.

“Kami tidak ingin sekadar mengirimkan surat perintah saja untuk menggusur. Tapi dengan dialog. Karena pada dasarnya warga bilangnya ingin pindah tetapi tolong dihargai. Kami akan hargai itu. Karena yang dipindah bukan barang tetapi kehidupan manusia,” ujarnya.

Selain penataan kampung kumuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pun berjanji memberikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, serta mengembalikan peranan RT, RW, Majelis Taklim, PKK dan Karang Taruna.

Pasangan Sandiaga Salahudin Uno itu menegaskan, gaya kepemimpinannya akan beda dengan pemerintahan yang sekarang. Dia akan lebih banyak mendengar aspirasi warga.

“Sebab, pemimpin Jakarta tidak boleh hanya memikirkan kemajuan kotanya, tetapi juga harus memikirkan kebahagiaan warganya,” tuntasnya. (julian/win)