Wednesday, 19 September 2018

Peluang Bisnis Kelapa Sawit Masih Menjanjikan

Jumat, 18 November 2016 — 13:44 WIB
File picture of a worker collecting palm fruit at a plantation in Langkat

JAKARTA (Pos Kota)- Produktivitas kelapa sawit nasional masih relatif rendah. Padahal potensi bisnis sawit tergolong fantastis. Tahun 2015 misalnya, volume ekspor CPO mencapai 32,5 juta ton dengan nilai ekspor 26,4 juta US Dolar.

“Sawit masih belum banyak dilirik oleh kalangan pebisnis muda. Mereka lebih tertarik pada sektor properti dan investasi keuangan. Padahal peluangnya justeru lebih luas pada bisnis sawit,” papar Eko Darmawan, Direktur Bisnis PT Mitra Agro Servindo.

Menurutnya menjadi sawitpreneur tidaklah sulit. Bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman terkait sawit, ada banyak perusahaan konsultan perkebunan kelapa sawit yang siap membantu. Seperti halnya PT Mitra Agro Servindo yang didirikan oleh mantan karyawan dari beberapa perkebunan sawit.

“Melalui perusahaan ini kami menyediakan jasa berupa bimbing kultur teknis agronomi dan pabrik, pembangan sistem administrasi dan pelaporan di perkebunan atau enterprise Resurces Planning (ERP) khusus untuk perkebunan yaitu I-Me+ (Integrated MAS Explorer Plus), uji laboratorium dan pengolahan. Termasuk layanan training, assessment dan pengembangan sumber daya manusia serta advisory pengelolaan dan penyediaan benih dan bibit unggul yang bekerjasama dengan produsen benih dalam negeri dan luar negeri”, jelas Eko yang Direktur Bisnis PT Mitra Agro Servindo.

Eko mengatakan untuk menjadi sawitpreneur yang sukses kuncinya adalah mampu melihat kebutuhan pekebun lalu mampu membantu networking secara global. Bahkan jika memungkinkan kita tidak perlu menciptakan teknologi baru tetapi cukup mendatangkan teknologi dari luar yang sudah teruji.

Sementara itu Asmar Arsyad, Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo), mengapresiasi anak-anak muda yang tertarik berbisnis di bidang kelapa sawit. Pasalnya saat ini perkebunan khususnya kelapa sawit mulai ditinggalkan generasi muda dan menyisakan orang-orang tua di dalamnya. Padahal faktanya berbisnis di bidang komoditas penghasil CPO tersebut sangat menarik dan menguntungkan.

“Spirit orang muda dalam pengembangan sawit diharapkan dapat mendongkrak daya saing kelapa sawit melalui inovasi, kreativitas serta aplikasi teknologi terkini khusunya di bidang IT. Karena sesungguhnya perkebunan kelapa sawit membutuhkan pikiran-pikiran yang out of box dari anak-anak muda untuk menciptakan perubahan wajah perkebunan kelapa sawit nasional”, jelas Asmar.

Selain itu, kehadiran para sawit preneur diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan di dalam negeri, serta, dapat mendorong perbaikan produktivitas serta citra kelapa sawit nasional.

(faisal/sir)