Sunday, 28 May 2017

Menghitung Kursi Kosong

Sabtu, 19 November 2016 — 6:20 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“ADA apa Dul? Kau masuk kok dengan nafas seperti maling kesiangan kepergok ronda?” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk warung kopi Mas Wargo, setelah mengucapkan ‘alaykum salam. Menjawab salam Dul Karung yang terdengar tidak sefasih biasanya.

“Dia habis jogging kali?” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Aku capek sekali. Jalan kaki dari Senayan ke sini,” jawab Dul Karung sambil melempar bokongnya ke bagian bangku yang kosong. Seperti biasa, tangannya langsung menyambar singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Ke Senayan? Ke DPR ya?” tanya orang yang duduk di kanan Dul Karung.

“Iya!” jawab Dul Karung sambil mengunyah singkong goreng dengan mulut termonyong-monyong kepanasan.

“Ngapain kau ke sana? Para aggota DPR yang terhormat dan punya kewajiban ke sana saja banyak yang bolos, kau yang mau jadi tukang sapu lantai saja belum tentu diterima, malah ke sana. Pikiranmu rada bengkok, Dul!” kata orang yang duduk di kanan Dul Karung lagi.

“Aku justru mau menghitung kursi kosong itu? Kursi yang dulu beliau-beliau itu mau mengeluarkan duit berjuta-juta untuk memperolehnya, sekarang malah dibiarkan kosong. Aneh kan?” kata si Dul seenaknya.

“Daripada kursi itu mubazir di sana, mulanya aku mau minta izin untuk membawanya ke sini saja. Insya Allah kalau aku diizinkan memindahkan kursi-kursi tersebut ke warung ini, para anggota Dewan yang terhormat itu akan memperoleh banyak pahala. Kan di warung ini cuma ada satu bangku panjang yang kita duduki beramai-ramai,” kata Dul Karung.

Tapi ketika baru saja ucapan Dul Karung selesai, Mas Wargo yang biasanya tidak suka ikut campur obrolan pelanggannya, tiba-tiba menyerobot dengan nada tinggi.

“Jangan kau coba bawa kursi itu ke sini, Dul! Aku tidak mau pelangganku jadi tukang bolos seperti anggota DPR pilihan kalian itu,” ucap Mas Wargo.

“Ah, Mas Wargo jangan berlebihan dong. Pandanglah semua persoalan dengan optimistis,“ kata orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo dengan suara ceria.

“Maksud Bung?” tanya orang entah yang mana dan siapa.

“Dengan duduk di bangku panjang yang kerasnya bukan main ini kita setia hadir di sini, apalagi kalau tempat duduknya empuk seperti kursi DPR itu,” sambung orang itu dengan disambut senyum bijak para hadirin.

“Dan kita jangan salah pandang dan main pukul rata saja. Ada anggota DPR yang sangat rajin, lho. Beliau bukan cuma aktif di DPR sebagai forum parlemen resmi, tetapi juga rajin tampil di parlemen jalanan alias aksi unjuk rasa atau demonstrasi,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Ah itu sih carmuk,” tanggap orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Apa itu carmuk?” tanya Dul Karung berkura-kura dalam perahu, alias pura-pura tidak tahu.

“Gitu aja kok gak tahu?” kata orang yang duduk tepat di kiri si Dul. “Carmuk maksudnya “cari muka” alias mencari simpati atau mencari popularitas,” sambung orang itu.

“Oooo. Kukira carmuk itu “cara nyamuk.” Yaitu menghisap darah korbannya di dalam gelap,” kata Dul Karung seraya melangkah meninggalkan warung dengan begitu saja. ( syahsr@gmail.com )