Monday, 17 December 2018

Gara-Gara Mertua Tolol Menanti Menjadi Korban

Senin, 21 November 2016 — 6:35 WIB
nahni

KETIKA menantu ribut dengan orang lain, mustinya Ny. Ismaniar, 60, mendamaikan. Tapi yang terjadi, dia hanya mengusir Fahrizal, 38, dan tamunya untuk menyelesaikan masalahnya di luar rumah. Padahal di luar mereka justru berkelahi dengan senjata tajam, dan anak Ismaniar jadi janda akibat ketololannya.

Jadi mertua predikat otomatis ketika anak punya istri atau suami. Namanya mertua, mesti pemikirannya tua atau dewasa juga. Dia bisa menjadi tempat memberi nasihat ketika anak dan menantunya bermasalah, sukur-sukur bantu uang jika menyangkut masalah keuangan. Paling tidak: berilah sembur (petuah) ketika tidak bisa memberi uang (uwur).

Tapi Ny. Ismaniar dari Kelurahan Anduring Kecamatan Kuranji, Padang (Sumbar) ini sungguh lain. Sangat disayangkan, ketika menantunya ribut dengan tamu, hanya diusir saja dari rumah. Katanya, selesaikan masalah kalian di luar, jangan bikin ribut di rumah. Padahal, ributnya mereka juga urusan anak perempuannya, Halida, 30, yang dibuat rebutan dua lelaki itu.

Halida anak janda Ismaniar ini memang cantik, sehingga saking cantiknya, meski sudah punya suami masih ada juga yang mengincarnya. Padahal meskipun barang bagus, jika sudah bekas pakai pasti ada saja kekurangannya. Entah baut-bautnya kendor, saringan olie harus ganti, atau timing belt sudah aus. Memangnya mobil?

Kondisi Halida seperti itu. Dia sudah punya beberapa anak, eh masih juga ditaksir Fausan, 33, kenalan barunya. Celakanya, Halida menanggapi, sehingga kerjasama nirlaba keduanya ini bisa disebut perselingkuhan. Tak diketahui jelas perselingkuhan mereka sudah sampai sejauh mana. Apakah sekedar makan-makan bareng, atau sudah “makan bawah” juga. Sebab target perselingkuhan itu di mana saja sama, yakni: makan bawah itu tadi, yang tetap asyik meski tanpa lauk dan kuah.

Lama-lama perselingkuhan Halida-Fauzan tercium oleh suaminya, Fahrizal. Dia pernah menangkap SMS mesra di HP istrinya, yang dikirim lelaki bernama Fauzan. Jawab Halida, itu hanya guyonan belaka, tidak pernah serius. Karena suami harus percaya pada istri, akhirnya Halida tidak naik status jadi tersangka, tetap saksi semata. Toh tak bakalan ada yang mendemo ini.

Beberapa hari lalu pas Fahrizal tidur siang di rumah mertua, eh kok ada tamu lelaki mencari Halida, yang kebetulan sedang pergi. Namanya juga sangat menjadikan dirinya terusik dan curiga, karena dia bernama Fauzan, sosok yang pernah tertangkap SMS-nya itu. Maka tuduhnya kemudian, “Apakah Anda yang mengganggu istri saya?”

Tamu baru datang kan mestinya disuguhi minum sirup , eh malah dituduh menyelingkuhi bininya. Langsung saja Fauzan jadi emosi. Keduanya lalu ribut di ruang tamu. Ny. Ismania yang baru masak di dapur segera mendekat. Bukan menasihati, tapi hanya mengusirnya. “Jangan ribut di sini. Selesaikan masalah kalian di luar sana.” Ujarnya persis mengomeli anak kecil saja.

Fahrizal – Fauzan patuh. Keduanya lalu pergi berboncengan dengan sama-sama pakai helm. Setibanya di Jalan Seranggah, keduanya lalu turun dan melanjutkan percekcokannya yang terhenti karena diseling iklan. Rupanya percekcokan itu semakin meninggi, sehingga keduanya mengeluarkan pisau masing-masing dan “caruk”-lah mereka di pinggir jalan.

Warga yang melihat tak berani melerai. Yang terlihat hanyalah, Fahrizal yang tertusuk mencoba lari, tapi terus dikejar oleh Fauzan dan ditambah beberapa tusukan di perut dan leher. Tentu saja Fahrizal langsung ambruk dan wasalam. Keluarga Ny. Ismaniar beberapa saat kemudian diberitahu bahwa menantunya tewas ditusuk orang. Coba, jika mertua ini memberi solusi bijak, putrinya takkan jadi janda muda.

Kata penyanyi Muhsin: banyak janda uik-uikkk…. dunia belum kiamat! (JPNN/Gunarso TS)