Tuesday, 16 October 2018

Film “Sultan Agung Mataram 1628”

Sabtu, 26 November 2016 — 7:25 WIB
sultanagung

JAKARTA – “Insya Allah, film ini akan menjadi film Indonesia berkualitas untuk tontonan masyarakat. Saya harap, ‘ending’ film ini harus menampilkan kemenangan Sultan Agung melawan Belanda,” pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhajir Effendy, MAP yang menjadi keynote speaker dalam seminar “Bedah Sejarah Sultan Agung” di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis, (24/11) lalu

Seminar menghadirkan beberapa pembicara, seperti DR. Moeryati Sudibyo yang menyampaikan makalah “Menerobos Leluhur Adat dan Budaya”, ahli sejarah Mataram dari UGM DR. Margono berbicara tenang “Kekuasaan dan Kejayaan Mataram”, DR. Bondan Kanumuyoso membahas tentang “VOC”, dan DR Zainal D. Abidin, SSN, MSN mengenai “Sketsa dan Disain Film Sultan Agung Mataram 1628”.

Mooryati Soedibyo sangat mendukung film ini sebagai karya kreatif film nasional untuk mengangkat tema sejarah perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram 1628. Ia berharap film ini dapat menanamkan nilai-nilai patriotisme di kalangan generasi muda. “Generasi muda bisa mengambil contoh, nilai-nilai dari film ini, termasuk strategi dan semangat patriotisme Sultan Agung untuk diterapkan di masa kini,” tutur tokoh pengusaha jamu itu.

Sutradara film Sultan Agung Mataram1628, Zainal Darma Abidin mengatakan, film ini akan memberikan inspirasi kegigihan semangat juang masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Menurut Zainal, film ini akan dikemas dari ‘angel’ puteri Keraton yang mengambil jurusan sejarah di Univesitas Indonesia. Dalam skripsinya, puteri bernama Mustika itu menulis tentang Sultan Agung Mataram 1628 saat melakukan penyerangan VOC di Batavia. Putri, yang juga penari Keraton lalu membentuk forum pemerhati dan penyelamat aset sejarah Nusantara, bersama sahabat-sahabatnya.

Dalam proses penyusunan skripsi tersebut, Mustika banyak bertanya pada sang Eyang, Ratu. Ratu adalah tokoh wanita yang gigih memperjuangkan nilai-nilai sosial dan budaya. Sang eyang berusia 89 tahun itu menjadi sumber ilham dan inspirasi bagi Mustika.

“Kekuatan film ini adalah mengangkat semangat perjuangan heroik dalam mengusir penjajah/kolonial VOC, dengan darah pasukan Mataram yang berkorban atas titah Sultan Agung Hanokro Kusumo. Bahwa, jangan pernah kembali ke bumi Mataram jika Batavia belum ditaklukan!” tegas Zainal.

“Untuk menyusun cerita yang kuat, saya mengadakan riset selama empat tahun, mulai 2007 sampai 2011,” ungkap Zainal. Riset dilakukan di Leiden University, Museum Amsterdam, Suku Batav (etnis Belanda), Kota Gede sisa-sisa Mataram, Keraton Yogya, Keraton Solo/Kartasura, Makam-makam Raja Imogiri, diskusi pakar sejarah, bukit-bukit bersejarah, Kota Tua Jakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapa, hingga sisa kastil VOC.

Film “Sultan Agung Mataram 1628” berkisah tentang Sultan Agung Hanyokro Kusumo (1593-1646), raja ke-tiga Kerajaan Mataram yang memerintah pada 1613-1646.

Di tengah cengkeraman imperialis Belanda dengan kedok perusahaan dagangnya VOC, raja dari Kerajaan Islam Mataram, Sultan Agung berniat mempersatukan Pulau Jawa, untuk mengusir Belanda dari Nusantara. Sultan Agung lalu mengerahkan balatentaranya untuk menyerang ke Batavia, pada tahun 1628 – 1629, yang mengakibatkan tewasnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterzoon Coen.(dimas)