Thursday, 21 September 2017

Tata Tentrem Kerta Raharja

Sabtu, 3 Desember 2016 — 6:10 WIB
jut

Oleh S Saiful Rahim

“HARI Jumat kemarin kau ke mana saja, Dul? Kok aku tidak lihat?” tanya orang yang duduk di dekat pintu masuk warung kopi Mas Wargo sambil bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Maksudmu kau tidak melihat aku di mana? Di “Al-Shabirin,” mesjid tempat aku biasa salat berjamaah dan mengaji?” jawab dan sekaligus tanya Dul Karung.

“Bukan di mesjid, tapi di Monas?” kata orang itu lagi.

“Ngapain aku ke Monas? Jualan ketupat sayur?” jawab dan sekaligus tanya Dul Karung lagi.

“Bukan jualan ketupat. Zikir, berdoa, dan salat Jumat bersama ribuan orang. Kan kata ustadz Marzuki doa yang dilakukan beramai-ramai, apalagi sampai ribuan orang lebih afdhal. Lebih mustajab daripada berdoa sendirian,” kata orang itu lagi.

“Apa hari itu kau ke Monas?” Dul Karung balik bertanya.

“Tidak, sih,” jawab orang itu.

“Kok kau tahu aku tidak ke sana? Apa malaikat melapor padamu? Emangnye kau siapa?” kata Dul Karung dengan nada yang mulai tinggi.

“Aku lihat di televisi kau tidak ada. Padahal semua TV dalam negeri, bahkan luar negeri, menyiarkan berita Monas itu. Biasanya kau kan kalau lihat ada kamera TV, langsung berdesakan ke depan. Bahkan baru melihat orang menenteng kamera kau sudah sibuk membuntuti. Padahal orang itu hanya membawa kamera rusak untuk diservis,“ ujar orang itu yang disambut senyuman, bahkan gelak tawa beberapa hadirin.

“Sudahlah, jangan bicarakan keramaian-keramaian baik yang berupa unjuk rasa berang atau untuk rasa damai. Semua itu hanya bikin aku was-was,” kata Mas Wargo yang biasanya tidak suka ikut campur obrolan pelanggannya.

“Alhamdulillah, kalian masih setia mampir ke warungku ini. Tapi belakangan ini pasar tempat biasa aku beli singkong, pisang, ubi, dan lain-lain tidak semeriah dulu lagi. Pasokan barang-barang sekitar hari-hari menjelang unjuk rasa, baik itu rasa berang atau rasa damai, menurun jauh,” sambung Mas Wargo.

“Dan Dul Karung tidak mau tahu dengan semua itu. Dia tetap saja berutang,” sela seseorang yang entah siapa dan yang mana, tapi mengundang ledakan tawa. Setidaknya senyum dikulum.

“Itu sebabnya Jumat lalu aku tidak ikut ke Monas,” tukas Dul Karung tiba-tiba.

“Setiap saat, pagi ketika bangun tidur, selepas salat lima waktu, dan juga malam ketika mau tidur, aku tidak lupa berdoa agar negeri dan bangsaku aman damai, makmur sejahtera. Selain hal itu diajarkan oleh agama, aku sadar sekali kalau negeri ini aman damai, dan makmur sejahtera, yang menurut bahasa Bung Karno “tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi,” aku ikut menikmatinya. Paling tidak aku, punya duit atau tidak, tetap bisa menikmati singkong goreng dan teh panas, kental, manis di warung Mas Wargo yang baik hati dan seperti saudaraku sendiri,” sambung Dul Karung seraya buru-buru ngeloyor pergi meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )