Tuesday, 24 January 2017

KERUK NASI

Senin, 5 Desember 2016 — 5:41 WIB

Oleh Harmoko

WACANA perlunya dialog nasional kian berkembang, sebagai upaya bangsa ini untuk mencari jalan keluar atas banyak persoalan yang terus berkelindan dari satu hal ke hal lain. Ketidakharmonisan berbangsa yang lahir dari satu persoalan ke persoalan lain perlu segera kita atasi.

Dialog nasional itu, sebagaimana diusulkan oleh Ketua Umum MUI K.H. Maruf Amin, untuk memfasilitas komunikasi di antara seluruh elemen bangsa. Lewat forum ini, berbagai elemen bangsa diharapkan bisa menghilangkan kecurigaan-kecuriagaan dan prasangka buruk yang dapat menimbulkan salah paham.

Kecurigaan dan prasangka buruk yang selama ini terjadi di antara berbagai elemen bangsa, kalau terus dibiarkan sangat berpotensi memecah-belah kerukunan nasional. Ini pulalah yang berulangkali diingatkan oleh mantan Wapres RI, Try Sutrisno, di berbagai kesempatan.

Pak Try mengingatkan bahwa bangsa Indonesia kian kehilangan perekat persatuannya sejak diberlakukannya perubahan UUD 1945. Perubahan UUD 1945 telah meminggirkan nilai-nilai Pancasila dan kebhinnekatunggalikaan.

Kita tahu, bhinneka tunggalika merupakan semboyan untuk mempersatuan bangsa Indonesia dalam keberagaman. Semboyan ini pulalah, oleh para pendiri NKRI dijadikan sistem kedaulatan rakyat dalam berbangsa dan bernegara, termaktub dalam Pasal 2 UUD 1945 (yang asli) bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan.

Apa pun yang terkait dengan persoalan rakyat dimusyawarahkan di MPR sebagai representasi kedaulatan rakyat yang beragam itu, sebagaimana amanat sila ke-4 Pancasila, termasuk dalam hal pemilihan pemimpin nasional, presiden. Sistem bhinneka tunggalika dijalankan melalui lembaga perwakilan.

Sejak UUD 1945 diubah, bangsa ini meninggalkan amanat sila ke-4 Pancasila dan menanggalkan konsep bhinneka tunggalika. Kekuasaan diperebutkan dengan pendekatan kalah atau menang, banyak-banyak suara, saling fitnah, saling menjatuhkan di tengah keberagaman.

Mengembalikan konsep dasar itulah, sepertinya, yang perlu diagendakan dalam dialog nasional. MPR sebagai lembaga perwakilan rakyat seharusnya menjadi tuan rumah untuk mewujudkan gagasan besar ini, demi terciptanya kerukunan nasional, sesuatu yang dulu selalu dipesankan oleh Bung Karno lewat akronim yang terus digelorakan bak sebuah mantra: keruk nasi.

Ya, keruk nasi alias kerukunan nasional harus terus kita gelorakan di tengah masyarakat yang penuh percik konflik, demi terpeliharanya kelangsungan hidup bebangsa dan bernegara di tengah keberagaman. Beragam namun tetap satu. Jayalah Indonesia! ( * )

Terbaru

wn2
Selasa, 24/01/2017 — 18:09 WIB
Ditangkap di Rumah Mewah di Kapuk
Sepasang Kekasih Diduga Pengendali Tujuh WN Tiongkok
ahok
Selasa, 24/01/2017 — 17:47 WIB
Juru Kamera Tak Simak Omongan Ahok