Tuesday, 25 July 2017

KEMBALI KE REL UUD 1945

Kamis, 8 Desember 2016 — 6:10 WIB

Oleh Harmoko

SUHU politik di tanah air kian panas, cenderung mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Aparat kepolisian bereaksi cepat, menangkapi para aktivis yang ditengarai hendak melakukan perbuatan makar. Bagaimana sikap TNI?

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebutkan, jika terjadi gerakan yang mengarah ke makar maka persoalannya bukan hanya urusan polisi melainkan juga menjadi urusan TNI. Pertanyaannya, benarkah mereka yang diamankan oleh polisi itu berniat melakukan makar?

Silang pendapat perihal itu pun mengemuka. Di satu pihak menyebutkan bahwa keinginan untuk kembali ke UUD 1945 sesungguhnya bukan perbuatan makar, apalagi aspirasi itu telah pula disampaikan secara resmi ke MPR. Tetapi, di pihak lain ada yang menyebutkan bahwa gerakan itu sekaligus mengusung agenda hendak menggulingkan pemerintahan yang sah dan oleh karenanya bisa dikatakan sebagai perbuatan makar.

Konsep kembali ke UUD 1945 itu sebenarnya telah menjadi naskah akademik dan telah diserahkan kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan, setahun silam, tepatnya tanggal 15 Desember 2015, di gedung MPR, Senayan. Pe¬nyerahan dilakukan oleh Hatta Taliwang, atas na¬ma Gerakan Selamatkan NKRI. Acara penyerahan dihadiri pula oleh Jenderal (Purn) Djoko Santoso (mantan Panglima TNI), Letjen (Purn) Syarwan Hamid, dan Rachmawati Soekarnoputri.

Gerakan tersebut dilakukan karena sejak diberlakukan perubahan UUD 1945 muncul banyak persoalan yang berpotensi merusak tatanan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila tersingkirkan, terdesak oleh nilai-nilai liberal.

Ketika belakangan banyak orang berkampanye pentingnya membela Pancasila demi terjaganya kebinekatunggalikaan, maka itu berarti kembali ke UUD 1945 yang asli. Kembali ke UUD 1945 yang asli berarti pula memperkukuh wawasan kebangsaan demi terciptanya sistem pertahanan dan keamanan masyarakat semesta. Dengan begitu, semua elemen bangsa bisa menemukan kembali ruh Proklamasi Kemerdekaan RI, menyatukan kekuatan sumberdaya manusia dan sumber daya alam untuk mempertahankan negara-bangsa ini.

Dalam kaitan ini, sangat relevan kita ingat amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman di depan para prajurit di Yogyakarta, 25 Mei 1946, “Percayalah pada kekuatan sendiri, teruskan perjuangan kamu, pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian, tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat dan perbuatan menyerah kepada siapa pun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali.”

Sangat relevan pula kita ingat pesan Jenderal A.H. Nasution di depan para anggota PWI tanggal 1 April 1966, “Dalam memuncaknya kegawatan-kegawatan sosial politik dan ekonomi belakangan ini maka lahirlah gagasan-gagasan dan kekuatan-kekuatan pendobrak. Gagasan kembalikan UUD 1945 secara konsekuen, baik idial maupun struktural, kembalikan revolusi kepada rel aslinya, rel UUD 1945. Koreksi semua penyelewengan UUD 1945 dan lain-lain seterusnya ….”

Iya, saatnya bangsa kita kembali pada relnya, rel yang dibangun oleh para pendiri republik ini, agar tidak semakin jauh tersesat. ( * )