Monday, 23 October 2017

Kisah ‘Sang Helm’

Jumat, 9 Desember 2016 — 6:10 WIB
helm

SEORANG kawan, mobilnya mogok di tengah jalan. Lalu menitipkannya di bengkel terdekat. Karena harus buru-buru sampai ke kantor, dia naik ojek.

Ketika dia mau melangkah ke pintu, seorang satpam menegur. Dia marah. “ Pak Satpam ini kan saya, lagian apa kamu nggak tahu, saya ini kan juga salah satu manajer di kantor ini?” bentaknya pada sang satpam.

“ Mohon maaf, Pak. Saya nggak kenal Bapak?” kata si satpam, sopan.

“ Apa?” kawan saya ini semakin marah.

“ Ya, saya nggak bisa melihat wajah Bapak, kan Bapak pakai helm. Peraturan di sini, siapa pun harus bukan helm kalau masuk ke ruangan kantor,” ujar si satpam, hati-hati.

“ O, sory…” kata kawan saya, sambil membuka helm.

Ini kebiasaan. Ya, karena si kawan saya ini, nggak pernah ngantor pakai helm. Kan dia naik mobil pribadi? Oleh sebab itu, ketika turun dari ojek, dia membayar ongkos, langsung ngeloyor tanpa membuka helm. Apalagi dia harus cepat masuk ruangan kantor, karena waktu sudah mepet. Inilah kisah nyata helm yang bikin kami tertawa, menjelang rapat pagi.

Ngomong-ngomong soal helm memang menarik. Perangkat pelindung kepala ini wajib dikenakan bagi pengendara motor, demi keselamatan.

Bagi yang ingin selamat dan aman, maka harus mengenakan helm yang standar dengan semua kepala dan wajah tertutup. Nah, repotnya, karena wajah tertutup kaca film hitam, tak bisa dikenali orang. Kadang orang dekat saja, kita nggak kenal?

Hal ini juga yang dimanfaatkan oleh penjahat yang beraksi. Apalagi perampok di siang hari bolong. Mereka tidak perlu masker, karen helm sudah mewakili.

Jadi jangan marah kalau petugas satpam, di tempat tugasnya meminta pengendara untuk membuka kaca helm ketika masuk wilayah yang djaganya.

Helm sering juga dipakai melindungi wajah dan kepala, saat tawuran? Dan helm juga masih jadi sasaran pencuri kelas teri. Padahal, jika ketahuan, akibatnya sama saja, digebukti sampai babak belur! -massoes