Saturday, 22 September 2018

Kompol Ade Supriadi Dijuluki Polisi Budaya

Selasa, 13 Desember 2016 — 0:59 WIB
Kompol Ade Supriadi, pembina seni. (dono)

Kompol Ade Supriadi, pembina seni. (dono)

POLISI Budaya. Itulah julukan yang kini dianugerahkan kepada Ade Supriadi, anggota polisi yang berdinas di Polda Jabar. Kiprah pria berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) dalam dunia budaya di wilayah Sumedang tak diragukan lagi.

Selain sudah lama merintis sanggar seni tradisional, juga pria berkumis dan bertubuh gempal ini senantiasa memberdayakan komunitas seni yang ada di wilayah tersebut.

“Seni dan budaya merupakan senjata jitu dalam mempersatukan warga demi memupuk persatuan dan kesatuan,” katanya.

Mendalami seni, bagi Ade bukan pekerjaan sampingan. Dia serius dalam menjalankan tugas baik sebagai anggota Polri maupun anggota seni dan budaya. Antara tugas negara dan seni senantiasa dipadukan demi mewujudkan warga yang bermental tanggungjawab dan tak melupakan seni serta budayanya.

“Hidup tanpa seni monoton, menjalan tugas dibumbui seni menumbuhkan kalori hidup,“ celetuknya saat berbincang di Mapolda Jabar, kemarin.

Ade menggeluti dunia seni tergolong cukup lama. Sejak menjadi anggota polisi dia sudah meleburkan diri ke dunia seni bersama masyarakat. Seni tradisonal yang ada di Sumedang ditata dan dibangkitkan kembali. Sehingga masyarakat dan generasi penerus tidak mengalami kegelapan terhadap seni daerahnya sendiri.

PERGAULAN LUAS

“Hampir 30 tahun saya bergaul dengan dunia seni dan budaya lokal. Hanya melalui seni, wawasan dan pergaulan akan luas,“ ujarnya.

Kepedulian Ade terhadap budaya Sumedang sudah tidak diragukan lagi. Dia bersama komunitasnya seni tradisonal Sumedang sudah membangun beberapa sanggar untuk sarana mentas dan unjuk kebolehan para seniman lokal.

“Kami mendirikan sanggar hanya untuk menghidupkan seni yang berkearifan lokal. Gempuran budaya asing tak menutup kemungkinan bisa mengkikis seni lokal hingga lenyap ditelan zaman,“ ucap Ade.

Meski tercatat sebagai polisi aktif, menggalang dunia seni lokal bukan suatu persoalan bagi pria ini. Tugas utama seorang Polri senantiasa diselipkan ketika ia manggung atau berkumpul di sanggar seninya. Seni hidup, tugas utama Polri melekat di masyarakat. Bertugas dan berseni indahnya luar biasa,“ akunya lagi.

SANGGAR REOG

Kompol Ade dan komunitasnya kini memiliki empat sanggar seni tradisional. Bahkan, dua sanggar di Kecamatan Tanjungsari Sumedang, setiap akhir pekan selalu dikunjungi warga hanya untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang kini nyaris punah. Seni reog, beluk, calung, dan seabrek seni sunda lainnya selalu diampilkan ketika menjeang akhir pekan.

Sanggat seni Ade, yang berdiri delapan tahun silam, bukan hanya diperuntukan untuk orang dewasa. Tapi juga memberikan kesempatan kepada kaula muda yang tertarik mengkaji dunia seni dan budaya. “Diharapkan dengan adanya sanggar ini akan menumbuhkan masyarakat yang berdedikasi tinggi serta berjiwa seni dan berbudaya,“ tambahnya.

Perihal peralatan seni yang ada di sanggar merupakan hasil gotong-royong rapa seniman.

Jiwa seni dan pemimpin yang melekat di tubuh Ade, bukan saja menjadi sorotan warga biasa di Sumedang. Bahkan, warga di Kampung Adat Pasigaran yang terlatak di daerah pinggiran Tanjungsari Sumedang. Ade pun didaulat menjadi sesepuh di kampung tersebut dalam membina kerukunan dan kamtibmas di kampung berpenghuni 40 KK itu.

Sanggar yang berdiri di tengah perkampungan adat kini semakin tumbuh dan berkembang. Pentas seni adat yang dimiliki warga senantiasa ditampilkan untukmenghibur warga setempat.

Sejak panggung adat menggeliat tamu dari luar pun terus berdatangan. Tak sedikit pengunjung dari kalangan pejabat menghabiskan waktu di kampung hanya untuk meyaksikan seni tradisonal yang dimiliki warga adat.

Kompol Ade kini hidup nyaman di tengah masyarakat. Polisi cerdas, agamis, berbudaya dan berseni merupakan sosok polisi yang didambakan masyarakat dalam melayani dan mengayomi masyarakat. (Dono Darsono)