Tuesday, 24 January 2017

GILIRAN GAJAH MADA – HAYAM WURUK

Rabu, 21 Desember 2016 — 6:00 WIB

Kemarin aku ke Pasar Mandiri, parkir di pinggir jalan. Waktu keluar, kukasi Rp. 2.000.-, tukang parkirnya minta Rp 5.000.-,” kata Soleh.

“Terus bagaimana?” desak Lukman.

“Kukasi saja Rp. 3.000.-, dia terima,” kata Soleh.

“Tak dikasi karcis,” desak Lukman lagi.

“Nggak. Katanya kalau pakai karcis Rp 5.000.-,” kata Soleh.

“Kalau begitu yang Rp 3.000.- nggak masuk ke kas DKI, masuk kantong tukang parkir. Satu hari bisa berapa itu?” kataku.

“Yang pakai parkir meteran juga kadang-kadang bisa dimainkan,” kata Lukman.

“Masa iya? Kan tukang parkirnya sudah digaji. Harusnya kan ada bukti bayarnya,” kataku.

“Pernah kulihat, tukang parkirnya mengambil uang, nggak pakai bukti parkir,” kata Soleh.

“Memang harus ada pengawasnya. Namanya manusia ada saja akalnya. Kalau tak diawasi, bisa bocor terus,” kataku.

“Mulai tahun depan giliran Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk akan mulai diberlakukan parkir meter. Sekarang masih belum, masih bayar ke tukang parkir,” kata Lukman.

“Bagus juga, jadi kita bayarnya jelas. Kuihat alatnya sudah dipasang,” kata Soleh.

“Cuma aneh,” kataku.

“Anehnya kenapa?” desak Lukman.

“Dulu kedua jalan itu kena three in one. Mulai pukul 10.00 tak boleh parkir, katanya bikin macet. Belakangan ada yang parkir dibiarkan. Kadang-kadang dirazia. Three in one dicabut, larangan parkir tetap. Nantinya boleh parkir, karena sudah ada parkir meteran,” kataku sambil menarik kursi di dekat Lukman.

“Namanya peraturan, kan bisa diatur-atur,” kata Soleh.

“Nantinya, parkirnya baiknya dibikin paralel, jangan serong. Kalau serong, mengganggu lalulintas. Lihat saja kayak di Jalan Juanda!” kataku.

“Tukang parkirnya rugi, mobil yang parkir cuma bisa berapa kalau paralel” kata Lukman.

“Kan tukang parkirnya sudah digaji. Tak soal baginya mau berapa mobil yang parkir,” kataku.

“Dishub harus tegas. Harus dibikin paralel. Jadi nggak menganggu lalulintas,” kata Soleh.

“Sekarang saja kadang-kadang macet. Apalagi kalau nanti parkir dibikin serong,” kataku.

“Ya betul. Kalau siang Jalan Gajah Mada itu padat, begitu juga Hayam Wuruk,” kata Soleh.

“Apalagi kalau ada sidang Ahok kayak kemarin,” kataku.

“Ahok kan nggak mikirkan lagi, kalau dia diberhentikan,” kata Soleh. (lubis1209@gmail.com)

Terbaru

wn2
Selasa, 24/01/2017 — 18:09 WIB
Ditangkap di Rumah Mewah di Kapuk
Sepasang Kekasih Diduga Pengendali Tujuh WN Tiongkok
ahok
Selasa, 24/01/2017 — 17:47 WIB
Juru Kamera Tak Simak Omongan Ahok