Friday, 21 September 2018

Kisah Ibu Inggris yang Diam-diam Menjadi Penjaja Seks

Sabtu, 24 Desember 2016 — 9:23 WIB
Penelitian di Inggris menunjukkan banyak kaum ibu yang menjajakan diri sebagai pekerja seks.

Penelitian di Inggris menunjukkan banyak kaum ibu yang menjajakan diri sebagai pekerja seks.

PENELITIAN di Inggris menunjukkan bahwa kaum ibu yang bekerja sebagai penjaja seks, jumlahnya signifikan.

Seperti apa jadinya menjajakan seks sambil membesarkan seorang anak?

“Saya pastinya tidak malu dengan apa yang saya lakukan,” kata Sherri, 42 tahun, dari Essex.

“Dan saya diam-diam marah bila saya atau pun perempuan lainnya tidak mengakui profesinya,”

Sherri sudah menjajakan seks kepada kaum pria selama dua dekade terakhir. Ia bekerja sebagai seorang penari telanjang, di rumah bordil, dan bergabung dengan jasa penyedia perempuan-perempuan penghibur.

Namun, ia tetap merahasiakannya dari sang anak yang berumur 12 tahun.

Kehidupan ganda yang ia jalani direncanakan dengan cermat. Ia mengatakan kepada anaknya bahwa ia bekerja sebagai resepsionis teater serta menjelaskan jam kerjanya. Ia pun tidak pernah telat pulang karena khawatir pengasuh anaknya curiga.

“Saya tahu banyak anak-anak berbalik melawan orang tuanya saat mereka mengetahui pekerjaan yang sebenarnya,” jelasnya. “Saya ngeri kalau harus menghadapi hal semacam itu.”

Kasus Sherri ini jauh dari unik.

Diperkirakan ada sekitar 72.800 pekerja seks di Inggris dan mayoritasnya adalah perempuan.

Jumlah terbesar perempuan penjaja seks itu adalah kaum ibu, kendati makin banyak perempuan lajang atau tanpa anak yang memasuki industri seks, tutur sosiolog Profesor Teela Sanders dari Universitas Leicester.

Kelompok advokasi English Collective of Prostitutes menyatakan bahwa ‘sebagian besar pekerja seks adalah kaum ibu’ dan mendukung film pendek dan gerakan kampanye media sosial menuntut penghapusan pidana bagi pekerja seks berjudul Make Mum Safer.

Banyak dari ibu memutuskan untuk menjajakan seks, dengan alasan sederhana: uang.

Sherri, yang mendukung organisasi ECP ini, baru berusia 20 tahun saat pertama kali memulai bekerja di rumah bordil di London, ia ‘terkejut’ dengan gajinya yang minim saat ia menjadi pekerja kantoran.

Saat ia menjadi sekretaris, ia hanya digaji £15.000 per tahun -belum termasuk potongan pajak- tapi di rumah bordil ia mengatakan bisa menghasilkan uang jauh lebih banyak hingga £100 (atau sekitar Rp1,6 juta) per malam.

Saat ia baru mempunyai anak, ia bekerja sebagai perempuan penghibur, mengunjungi kaum pria di rumah-rumah atau hotel mereka.

Ia menyadari akan bahaya pekerjaannya, setelah dua kali dikunci oleh kliennya yang agresif dan ia juga tahu pernah ada rekan seprofesinya yang diserang.

Tapi, ia kini memiliki klien tetap. Dan ia membandingkan pekerjaannya dengan pekerjaan lainnya, seperti menjadi pemadam kebakaran, yang menurutnya berbahaya juga.

“Anda menilai bahaya itu dengan membandingkan antara pendapatan dan kemampuan Anda.”

Namun, tak jarang para pelacur ini mengalami serangan. Diperkirakan ada 152 pekerja seks dibunuh antara tahun 1990 dan 2015, sementara ada lebih dari 280 laporan perkosaan yang dihimpun oleh skema perlindungan National Ugly Mugs sejak tahun 2012.

Banyak insiden yang tidak dilaporkan oleh para pekerja seks karena mereka khawatir akan dipidanakan.

Bagi Sherri pendapatan adalah hal penting. Ia mampu untuk mengundang teman-teman dan anak-anak mereka untuk makan malam dan memiliki segala yang diperlukan di hari Natal.(BBC)