Thursday, 22 August 2019

Anak Gadis Bukan Kucing Masak Dinikahi Tanpa Izin

Sabtu, 31 Desember 2016 — 6:50 WIB
laporpo

PASANGAN suami istri Maryati – Marpaung ini layak marah, karena anak gadisnya yang cantik itu, Berta, 18, dikawini lelaki lain tanpa seizinnya. Meski alasannya hamil duluan, mestinya suami istri ini pemilik produk diajak bicara. Karena putrinya dianggap kucing belaka, mereka laporkan menantunya ke polisi.

Perkawinan karena akibat kecelakaan ranjang, biasanya diselenggarakan diam-diam, karena malu. Namun demikian pastilah ada kesepakatan antara kubu cewek dan kubu cowoknya, tak bisa diputuskan sebelah pihak. Biasanya, inisitif menikahkan juga dari pihak wanita, pihak lelaki sebagai “penyetrom”-nya cukup terima matengnya doing.

Tapi yang terjadi di Medan (Sumut) ini lain. Keluarga Maruli, 26, sama sekali tidak pamitan apa lagi rembugan dengan orangtua Berta. Begitu tahu anak lelakinya “nyetrom” anak gadis orang tanpa setahu PLN, langsung saja dinikahkan diam-diam, dengan sponsor keluarga Maruli sendiri. Tentu saja keluarga Berta mencak-mencak.

Sebagai pelajar SMA, Berta suka nyambi dagang pakaian. Tapi begitu kesengsem pada cowok Maruli yang bekerja di kontraktor, mau saja melepas pakaian demi memperturutkan hawa nafsu. Entah berapa kali mereka berbuat, tahu-tahu Berta pun hamil. Seperti lazimnya kecelakaan ranjang, Berta segera minta pertanggunganjawab Maruli sebagai lelaki.

Ternyata Maruli ini benar-benar “anak mama”. Tahu hasil “setrum”-annya menjadikan Berta hamil, tak berani menyelesaikan sendiri. Dia minta tolong orangtuanya untuk menyelesaikan. Ternyata ayah ibunya juga memberikan penyelesaian yang tidak bijak, jika tak mau disebut tolol. Bukannya mereka mendatangi keluarga Berta untuk bermusyawaroh sebagaimana kata Asmuni, tapi langsung diputuskan sendiri. Mereka dinikahkan segera, tanpa sepengetahuan orangtua selaku pemilik produk.

Marpaung, 40, orangtua Berta sama sekali tidak tahu perkawinan itu. Mereka baru tahu setelah melihat foto pernikahan putrinya. Awalnya Berta tidak mengaku, tapi lama-lama mengaku juga bahwa perkawinan itu diselenggarakan atas sponsor pihak lelaki belaka. Keruan saja keluarga Marpaung segera menemui besan terpaksa tersebut. Kata keluarga Maruli, ini kebijakan darurat. Jika akan dimeriahkan di pihak wanita, silakan saja ditentukan hari H-nya.

Ternyata, sudah ditentukan hari H-nya, keluarga Maruli tidak juga datang, baik itu mempelai lelakinya ataupun keluarganya. Ketika dikontak justru menantang, kalau tidak terima silakan saja menempuh jalur hukum. Habis sudah kesabaran Marpaung, sehingga Maruli bersama orangtuanya pun dilaporkan ke polisi.

Anak berulah, orangtua kena tulah. (JPNN/Gunarso TS)