Monday, 26 June 2017

Suami Mengaku Bujang Ternyata WIL-nya Lima

Selasa, 3 Januari 2017 — 7:56 WIB
nah-03

ANDAIKATA koleksi WIL dipajaki, pasti Handoko, 38, kena pajak progresif beruntun. Bayangkan, sudah punya bini cantik, masih biyayakan (kelayapan) koleksi WIL sampai lima orang lewat medsos. Ny. Srianik, 38, sebagai istri lama-lama tak tahan juga, sehingga memilih bercerai lewat Pengadilan Agama Lampung.

Di zaman yang serba kena pajak ini, berbahagialah para lelaki petualang yang suka berburu cewek lewat medsos. Sebab sampai saat ini Ditjen Pajak tak ada niat memajaki orang punya WIL berapa pun jumlahnya. Begitu pula yang punya koleksi bini lebih dari satu, juga tak bakalan dikenakan pajak progresip, apa lagi dikenakan tax amnesty. Maka silakan terus: singkap, tembus, lega…….

Agaknya Handoko warga Bandarlampung sedang memanfaatkan “kemudahan” ini. Seiring dengan berkembangnya tehnologi informasi, lewat WA di HP canggihnya dia terus berburu cewek lintas daerah. Setiap kenal cewek baru, tak peduli gadis, janda atau bini orang, langsung di-japri (jalur pribadi). Bila sudah sama-sama klop, dadi japri langsung ke jabrut alias: jalur di bawah perut!

Kebetulan Handoko ini bekerja pada perusahaan yang punya banyak cabang di berbagai kota di luar Sumatera. Jadi sembari tugas ke luar kota, dia sekaligus memanfaatkan atau mencuri waktu untuk bisa ketemu gebedan barunya. Rata-rata tak mengecewakan, karena sudah saling kirim foto lewat WA. Maka jika situasinya mantap terkendali, Handoko langsung membawa WIL-nya itu ke hotel dalam rangka: jabrut!

Sebetulnya Srianik istri Handoko cukup cantik. Cuma karena sudah stok lama, bagi suami yang mata keranjang jadi kurang menarik lagi. Bagi Handoko, istri itu seperti gereh (ikan asin) yang geger ijo (punggung hijau) yang enaknya hanya ketika lapar sekali. Kalau ada peluang dan memungkinkan, dia lebih senang “ikan hias” (baca: bini orang), karena untuk memperolehnya memerlukan sejuta tantangan.

Setiap mendekati calon WIL, dalam WA Handoko selalu mengaku duda atau bujang kasep, yang telat mencari istri karena sibuk mengejar karier. Ternyata mereka percaya, sehingga lewat japri sana japri sini, koleksi WIL-nya sampai: Bandung, Pekalongan, Wates (Kulon Progo), Depok dan Jakarta.

Ny. Srianik awalnya tak pernah curiga jika suami sebentar-sebentar ke luar kota. Namanya juga tugas kantor. Mengapa tak pernah memeriksa surat perjalanan dinasnya? Memangnya istri itu anggota KPK, sehingga harus sedetil itu mencurigai suami sendiri? Srianik percaya saja, wong dia juga selalu membawa bukti otentik. Maksudnya, ngaku tugas ke Kulon Progo oleh-olehnya juga growol apa geblek, pulang dari Pekalongan bawa batik, dari Bandung juga bawa oleh-oleh wajik Mbandung.

Tapi sekali waktu HP canggih suami ketinggalan, sehingga iseng-iseng membukanya. Ternyata isinya, masya Allah………banyak pesan-pesan kencan dari WIL di lima kota tersebut. Saat diklarifikasi ternyata akhirnya Handoko juga mengaku, meski sambil minta maaf. Tapi karena sakitnya sampai di sini (sambil menunjuk ulu hati), Srianik meski memaafkan, tapi proses hukum jalan terus……

Srianik memang mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Bandarlampung. Soal anak sudah tiga, tak masalah karena semuanya akan membawa rejekinya masing-masing. Setelah melalui proses panjang, akhirnya PA mengabulkan, dan Srianik membawa ketiga anaknya ke rumah orangtua, untuk buka usaha sendiri.

Sedangkan Handoko, usaha terus untuk japri dan jabrut.

(JPNN/Gunarso TS)