Tuesday, 20 November 2018

Nilai Produk Industri Alas Kaki Pada 2016 Capai Rp22,98 Triliun

Rabu, 4 Januari 2017 — 13:11 WIB
Menperin Airlangga Hartarto dan Dirjen IKM Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Gati Wibawaningsih bersama Bupati Bogor Nurhayanti meninjau  produk jadi alas kaki berupa sepatu pada Kunjungan Kerja ke Sentra Alas Kaki di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Menperin Airlangga Hartarto dan Dirjen IKM Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Gati Wibawaningsih bersama Bupati Bogor Nurhayanti meninjau produk jadi alas kaki berupa sepatu pada Kunjungan Kerja ke Sentra Alas Kaki di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

JAKARTA (Pos Kota) – Investasi IKM (industri kecil menengah) alas kaki pada tahun 2016 mencapai sekitar  Rp2.8 triliun dengan nilai produksinya mencapai Rp22,98 triliun.

“Untuk alas kaki dari IKM  ini, Kami memproyeksikan, nilai produksi sektor ini akan meningkat pada tahun 2017 sebesar Rp24,25 triliun,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Rabu kemarin.

Menperin menegaskan, pihaknya terus memberikan perhatian lebih bagi IKM dalam negeri karena telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional. “Di hari pertama kerja di tahun 2017 kemarin, agenda kunjungan kerja kami pertama ke Ciomas, dan ini adalah bentuk perhatian lebih yang diberikan pada pelaku IKM di Kabupaten Bogor,” ujarnya, Rabu (3/1).

Di Ciomas,  Menperin didampingi Dirjen IKM Gati Wibawaningsih melakukan dialog dan temu usaha dengan pelaku IKM Alas Kaki di Desa Mekar Jaya dan Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Bogor Jawa Barat. Rombongan juga mengunjungi Unit Pelayanan Teknis (UPT) Desa Cibalagung, Bogor Barat, Jawa Barat.

Hadir pula Bupati Bogor Nurhayanti, Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ade Ruhandi, Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor Dace Supriadi, serta anggota Koperasi Sandal Sepatu Bogor.

Airlangga menyampaikan, secara umum, rata-rata nilai investasi yang ditanamkan untuk menjalankan usaha IKM alas kaki di dalam negeri sebesar Rp37 juta. Sementara itu, untuk menghasilkan produknya, diperlukan bahan baku utama yang rata-rata senilai Rp6,5 juta dalam satu bulan.

“Sedangkan, nilai produksi penjualan dari hasil industri ini rata-rata dalam satu bulan menghasilkan pemasukan Rp14 juta. Dengan hasil produksi tersebut didapatkan nilai tambah rata-rata sebesar Rp 6,8 juta dalam satu bulan,” ungkapnya.

Menurut Menperin, IKM alas kaki mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja, dengan karakteristik jumlah pekerja di setiap satu unit usaha sekitar 1-19 orang. Berdasarkan data BPS pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 15 (KBLI-15), IKM alas kaki tergabung dalam kelompok IKM penyamakan kulit dan produk kulit. Data tahun 2010, menunjukkan, kelompok usaha tersebut berjumlah 32.910 unit dengan jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 114.495 orang di seluruh Indonesia.

“Dari data tersebut, sebanyak 49 persen merupakan IKM alas kaki, selanjutnya 48 persen IKM produk kulit dan 3 persen IKM penyamakan kulit. Sedangkan, penyerapan tenaga kerja pada masing-masing sektor, sebanyak 51 persen terserap di IKM alas kaki, disusul 46 persen di IKM produk dari kulit dan sisanya 3 persen di IKM penyamakan kulit,” paparnya.

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, kemajuan IKM alas kaki secara langsung akan memajukan industri kreatif, dan sebaliknya industri kreatif yang maju akan menjadikan sebuah kota atau suatu daerah berkembang menjadi sumber destinasi pariwisata.

“Diperkirakan, pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki tahun 2016 sebesar 7,74 persen dan hingga Oktober 2016, ekspor produk alas kaki dari Indonesia mencapai 3,7 miliar dolar AS,” ujarnya.

Pada tahun 2017, Kemenperin akan memacu awareness pasar terhadap branding sepatu Ekuator melalui pembuatan tipe baru dan peningkatan promosi,” jelasnya.

Kemenperin mencatat, dari sebaran IKM alas kaki di seluruh Indonesia, sebanyak 49,62 persen di Jawa Barat dan 32,30 persen di Jawa Timur. “Konsentrasi di Jawa Barat berada di daerah Bogor, Bandung, dan Tasikmalaya, sedangkan untuk Jawa Timur di daerah Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto. Jombang dan Magetan,” sebut Gati. (Tri/win)