Saturday, 23 September 2017

Ringan Tangan pada Istri Tewas Ditusuk saat Tidur

Jumat, 6 Januari 2017 — 6:27 WIB
ringan

HATI-HATI buat lelaki yang suka cengkiling (main pukul) pada istri, salah-salah bisa bernasib seperti Iksan, 36, dari Aceh Utara ini. Sedang tidur nyenyak menjelang subuh, tahu-tahu ditusuk pisau oleh kekasih gelap istri, Fauzan, 26. Istri sumbu pendek berikut PIL-nya, pada akhirnya ditangkap polisi juga.

Konflik dalam rumahtangga itu biasa, tapi tidak perlu sampai berlarut-larut hingga berujung dendam. Ribut hari ini, ya hari ini selesai. Dari padu (bertengkar), bisanya dilanjutkan dengan padu dalam arti: kaki empat diadu. Itu sah-sah saja, wong namanya suami istri. Atau rekreasi bersama, makan Fitza Hats di restoran, itu juga lebih baik karena bisa menambah kemesraan laki bini.

Rupanya keluarga Iksan- Farah, 26, dari Dewantara, Aceh Utara, ini belum pernah menerima pencerahan semacam ini. Membina rumahtangga baru 6 tahun, gaduhnya sudah 10 tahun. Artinya, tiada hari tanpa cekcok. Begini salah, begitu salah. Tetangga pun jadi risih jadinya. “Kalau tiada hari tanpa teh botol, itu mah segerrrr….,” kata warga.

Paling memprihatinkan, keributan laki bini ini tak hanya lewat mulut saja, tapi tangan juga bicara. Terutama ini dilakukan oleh Iksan. Asal istri melawan ucapan-ucapannya, tinjupun melayang sebagai partai tambahan. Jika sudah begini, bisanya Farah hanya menangis. Tapi ketika curhat ke teman-teman, nasihatnya sama, hanya disuruh bersabar, karena ini ujian. “Sebentar-sebentar ujian, kayak Cawagub Silvy dari DKI saja kamu.” Sindir Farah.

Ujian apa, Unas? Toh mau dihapus oleh Mendikbud, tapi dilarang oleh Presiden. Di tengah kegundahan tanpa solusi ini, Farah berkenalan dengan Fauzan, anak muda yang kaya akan vitalitas. Tiba-tiba saja dia merasa nyaman asal di dekat anak muda ini. Beda ketika dekat suami, pikirannya jelek melulu. Mau dapat swing apa jab ini?

Sekali waktu Farah curhat tentang kelakuan suaminya, dan dia bisa memberikan nasihat yang menyejukkan meski di situ tak ada AC split. Bahkan Fauzan mampu menghiburnya, sehingga Farah terlupakan akan penderitaan batinnya. Dari sinilah dia mulai simpati. “Anak muda ini memang tokoh masa depan,” kata batin Farah.

Dari simpati kemudian menjadi cinta muda-mudi, sehingga keduanya pun berniat untuk menjadi satu dalam kehidupan suami istri. Tapi masalahnya, STNK dan BPKB Farah kan masih atas nama Iksan suaminya. Bagaimana cara membalik nama? Pasti Iksan tidak mau menceraikan meski diminta baik-baik.

Otak kotor Farah mulai bicara. Ketimbang setiap hari disakiti, mending dilenyapkan saja lelaki kejam model Iksan ini. Gagasan ini disampaikan pada Fauzan. Ternyata dia menerima gagasan itu, karena dia memang ada kepentingan di dalamnya. Jika Iksan wasalam, dia dengan mudah bisa menikahi janda muda yang berbodi sekel nan cemekel itu.

Maka MOU segera ditangani. Pada hari H itu Farah pura-pura tidur nyenyak, dan rumah yang sengaja tak dikunci sekitar pukul 04.00 didatangi Fauzan. Karena memang sudah disket sebelumnya, dengan mudah PIL Farah itu menemukan kamar suami istri ini. Ikan yang sedang tidur nyenyak itu langsung dihujani tusukan sebanyak 7 kali dan tentu saja tewas seketika.

Untuk mengesankan perampokan, sepeda motor Iksan dibawa kabur juga. Tapi mana bisa polisi dikadali seperti itu. Farah pun diinterogasi, dengan pertanyaan diulang-ulang seperti seperti pada Ahmad Dhani dalam kasus dugaan makar. Capek menjawab pertanyaan hamba wet, akhirnya Farah mengaku dan Fauzan pun dengan mudah ditangkap.

Paling dia ngetwet, “Mulut ember sih kamu!?” (JPNN/Gunarso TS)