Tuesday, 25 July 2017

Apel Janda Terlalu Lama Mendapat Amnesti Denda

Sabtu, 7 Januari 2017 — 6:40 WIB
jande

ENAK betul Markadi, 37, jadi praktisi selingkuh. Apel terlalu lama di rumah janda Sarini, 35, dan juga sudah melakukan “singkap-tembus-lega”, tapi dia masih memperoleh amnesti denda sampai 40 %. Namun demikian Markadi tidak terima juga. Dia lapor polisi dengan tuduhan Pak Kadus memerasnya Rp 6 juta.

Sebagaimana Magelang, daerah Temanggung pada umumnya berhawa dingin juga, di mana suhu udara pegunungan berkisar 20 C. Karenanya banyak orang yang mencari kehangatan dengan berbagai cara. Ada yang bakar sampah di pagi hari untuk gegenen (berdiang), ada pula yang minum wedang jahe, atau berselimut rangkap tiga!

Yang dilakukan Markadi, “emigrant” dari Kendal ini lain sekali. Saat kedinginan di daerah Temanggung, justru nginep berlama-lama di rumah janda Sri Lestari, warga Banaran Kecamatan Gemawang. Di sini memang terasa jadi “anget” dan kemrisik, karena dia di kamar ditemani pemilik rumah, dengan segala aktivitasnya.

Janda dua anak ini memang lumayan cantik, sehingga banyak lelaki yang ingin mengajak berkoalisi permanen. Tapi Sri Lestari tak semudah itu menerima tawaran politisi asmara. Sebab kebanyakan dari mereka hanya banyak janji, padahal di rumah masih ada anak istri. Karenanya selama ini Sri Lestari selalu menolak ajakan koalisi itu. “Saya tak mau dilabrak kaumku gara-gara dituduh merebut suami orang,” katanya serius.

Nasib mujur dialami oleh Markadi yang asal Singorojo, Kendal. Ketika berkenalan langsung saja cocok. Markadi memang mengaku duda, dan karena dibuktikan dengan surat cerai yang dikeluarkan Pengadilan Agama, Sri Lestari langsung menerima, tanpa melalui fit and proper test segala.

Markadi dibukakan pintu lebar-lebar ketika main ke rumahnya, sampai kemudian juga lebar-lebar sampai ke roknya segala. Nah, lelaki cap apapun pasti betah. Karenanya yang biasanya beberapa jam saja, kini sampai berhari-hari. Tentu saja umek (asyik) sekali bagi Markadi, karena dia menerima pelayanan purna ranjang dari si janda nan cantik ini.

Awalnya warga sekitar tak peduli saja ketika Markadi hanya datang secara temporer. Tapi ketika sudah tiga hari tidak pulang juga, penduduk pun menduga yang macem-macem. Mereka bukan suami isri, kok bebas banget apel terlalu lama. Pasti Markadi ini tak sekedar apel, pasti menerima pelayanan yang lain. “Mana ada kucing lihat dendeng tak dicaplok?” kata penduduk.

Mereka pun mengadu ke Kadus Darwito, dan lalu dilakukan penggerebekan di tengah malam. Ketika digerebek Markadi-Sri Lestari memang tidak dalam posisi main, paling baru slot-slot iklan saja. Tapi ada sejumlah hal lain yang sudah melanggar kepatutan. Satu, Markadi tidak pernah melapor ke RT terdekat. Dua, mengunjungi janda berlama-lama di luar jam bertamu. Tiga, laki perempuan bukan suami istri tinggal tiga hari harus dicurigai.

Atas kesalahan itu, Markadi dikenakan denda Rp 10 juta. Ternyata masih keberatan juga. Meski sudah melakukan “singkap-tembus-lega” pada Sri Lestari, akhirnya dia dapat pengampunan denda 40 %, sehingga tinggal bayar Rp 6 juta. Karena belum ada duit, sepeda motornya dijadikan jaminan. Rupanya Markadi tidak terima, sehingga lapor polisi bahwa Pak Kadus telah memeras dirinya.

Sayang Rp 6 juta, tapi jadi ketahuan cari janda sampai ke luar kota. (JPNN/Gunarso TS)