Wednesday, 22 February 2017

Berharap Harga Murah

Sabtu, 7 Januari 2017 — 6:22 WIB

NAIKNYA harga cabai menjadi perbincangan hangat ibu rumah tangga. Sebelum tahun baru harga cabai sudah naik hingga Rp 80 ribu per kilogram.

Akhir pekan ini di sejumlah daerah seperti Bandung harga cabai sudah mencapai Rp 120 ribu per kilogram.

Belum habis rasa heran atas melambungnya harga cabai, tarif listrik konsumen rumah tangga, 900 watt dinaikkan mulai bulan ini.

Sebanyak 18 juta pengguna listrik golongan ini, harus menambah pos anggaran untuk pembayaran listrik tiap bulannya.

Berberangan dengan itu, harga pertamax dan pertalite naik Rp 300 per liter.
Mulai awal tahun ini, beban masyarakat kian berat karena adanya kenaikan biaya penerbitan dan perpanjangan STNK dan BPKB.

Puluhan juta pemilik kendaraan bermotor roda dua dan empat perlu menyiapkan dana tambahan, jika ingin memperpanjang STNK.

Kalangan DPR menyayangkan,bahkan, Fraksi PKS DPR meminta pemerintah meninjau ulang sejumlah kenaikan tarif tersebut. Apalagi kenaikan tarif itu kemudian menimbulkan polemik yang bisa berdampak kepada kepercayaan masyarakat.

Apakah usulan kalangan DPR ini akan direspons pemerintah? Itu menjadi hak eksekutif, tetapi setidaknya perlu disikapi.

Sisi lain yang perlu disikapi adalah mengendalikan harga kebutuhan pokok. Berharap harga sembako dan barang kebutuhan pokok murah adalah harapan kita semua. Bukan saja pemilik kendaraan bermotor, bukan pula pengguna pertamax dan pertalite, bukan juga pengguna listrik 900 watt, tetapi mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor sangat merasakan akibatnya, jika yang naik harga makanan dan sayuran (produk pertanian).

Kita bersyukur impor komoditas pertanian menurun dari 3,2 juta menjadi 900 ribu ton. Artinya produk lokal sudah mulai mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah pun optimis swasembada pangan pada saatnya dapat dicapai.

Hanya saja jangan sampai swasembada pangan tercapai, tapi harga pangan tetap mahal.
Lebih repot lagi, kenaikan harga pangan tidak dinikmati petani, tetapi oleh tengkulak (pihak ketiga). Harga di tingkat petani murah, tapi sampai konsumen bisa 3 atau 4 kali lipat. Harga cabai yang terjadi sekarang misalnya menjadi contoh konkret, lepas dari sejumlah alasan seperti terbatasnya stok akibat cuaca buruk sehingga gagal panen.

Jika pertanian menjadi pintu masuk mengangkat kesejahteraan, keuntungan harus lebih banyak dinikmati petani, bukan pihak ketiga.

Guna mendongkrak kesejahteraan rakyat, swasembada pangan bukan sebatas angan, harga murah merupakan amanah. (*)

Terbaru

Lily Sulistyowati, Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kemenkes (ist)
Rabu, 22/02/2017 — 19:53 WIB
Kemenkes: Kanker Sudah Menjadi Ancaman Bagi Anak